oleh

Festival Adat Moronene, Jembatan Budaya antara Masyarakat Adat dan Dunia

-ADS-1101views

Bombana, HarapanSultra.COM | Festival Adat Moronene yang digelar di Kampung Adat Hukaea Laea, Desa Watu-watu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, pada Rabu,( 22/11/23) bukan hanya sekadar pesta budaya, tetapi juga sebuah upaya untuk melestarikan dan mempromosikan warisan leluhur yang kaya akan makna dan filosofi.

Festival ini merupakan inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Bombana melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, dengan tujuan untuk mengangkat kebudayaan Suku Moronene, salah satu suku asli di Sulawesi Tenggara, yang masih mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adatnya.

Festival ini menampilkan empat ritual adat yang dianggap sakral oleh masyarakat adat Suku Moronene, yaitu Ritual Mo’oli Wonua, Mobeli Wonua, Mobea Nganga, dan Montewehi Wonua. Ritual-ritual ini memiliki makna dan filosofi tersendiri, yang berkaitan dengan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

1.Ritual Mo’oli Wonua adalah ritual meminta izin atau pamit kepada pemilik kampung yang berupa hal gaib, agar masyarakat yang hendak tinggal berkebun dan menggarap kekayaan alam di wilayah itu merasa aman. Ritual ini dilakukan sebelum memasuki kampung adat, dengan menyembelih seekor ayam dan menyiramkan darahnya ke tanah.

2.Ritual Mobeli Wonua adalah ritual mensucikan atau membersihkan kampung dari segala tindakan atau perbuatan salah, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang tidak disengaja. Ritual ini dilakukan dengan menyembelih seekor babi dan menyiramkan darahnya ke tanah, serta membagikan dagingnya kepada seluruh warga kampung.

3.Ritual Mobea Nganga adalah ritual yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah nazar atau niat baik yang pernah terucap dari masyarakat atau tetua adat. Ritual ini juga masih berkaitan erat dengan ritual pensucian kampung. Ritual ini dilakukan dengan menyembelih seekor kambing dan menyiramkan darahnya ke tanah, serta membagikan dagingnya kepada seluruh warga kampung.

4.Ritual Montewehi Wonua adalah ritual yang dilakukan dengan niatan untuk membersihkan kampung. Menjernihkan semua persoalan dan kesalahan yang pernah terjadi di kampung. Tujuannya agar terhindar dari malapetaka. Ritual ini dilakukan dengan mengurbankan seekor sapi putih yang telah berusia lebih dari satu tahun, dan menyiramkan darahnya ke tanah, serta membagikan dagingnya kepada seluruh warga kampung.

Mokele Tuko Wonua Hukaea Laea, Mansur Lababa, menjelaskan bahwa ritual-ritual adat ini merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Ia berharap bahwa festival ini dapat meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Moronene, serta menarik minat wisatawan untuk mengunjungi kampung adat ini.

“Kebudayaan Moronene adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Kami ingin memperkenalkan dan membagikan kebudayaan kami kepada dunia, agar mereka dapat menghargai dan menghormati kami sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang beragam,” ujar Mansur.

Penjabat Bupati Bombana, Burhanuddin, yang hadir dalam festival ini, mengapresiasi upaya Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga dalam menggelar festival ini. Ia mengatakan bahwa kebudayaan Moronene merupakan aset budaya yang harus dipertahankan dan dikembangkan. Ia juga berjanji akan membantu membangun infrastruktur, khususnya jalan dan irigasi, di kampung adat ini, untuk mendukung potensi pariwisata lokal.

“Kami ingin memajukan kampung adat ini sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman budaya yang unik dan otentik. Kami juga ingin memberdayakan masyarakat adat ini agar dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya melalui sektor pariwisata,” kata Burhanuddin.

Festival Adat Moronene ini merupakan salah satu bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Festival ini juga menjadi jendela bagi dunia untuk menyaksikan dan menghargai kekayaan budaya yang telah diwariskan dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat adat Suku Moronene. Festival ini juga menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan, dengan mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan, partisipasi, dan inklusivitas. (ADV)

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA