oleh

“MATE YAHO POWEWEU SAWALI MERUKUSI YAHO DOSA”, Slogan Patriotik Sangia Dowo

Oleh : Asbar *

Sepenggal Sejarah

Mengutip dari sebuah buku yang berjudul Sejarah Perlawanan Imperialisme dan Kolonialisme di daerah Sulawesi Tenggara yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat sejarah dan Nilai Tradisional Tahun 1983/1984 . Penulis Husein A. Chalik, BA dkk, Pada halaman 29 tertera sub judul Perlawanan Sangia Nilemba (Sangia Dowo) di Moronene.

Sangia Nilemba atau Sangia Dowo (1875-1912). lahir disaat-saat memuncaknya pertikaian politik di Kerajaan Moronene. Masing-masing penguasa daerah sebagai pimpinan kerajaan-kerajaan kecil dalam tubuh kerajaan Moronene saling bentrok. Orang-orang luar dapat mengetahui dengan jelas kelemahan politik Kerajaan Moronene. Terlebih lagi bagi pemerintah belanda yang telah lama mengintai kerajaan itu, senantiasa menantikan waktu yang baik untuk menguasainya.

Pada tahun 1906 Sangia Dowo diangkat menjadi raja Polea di Toburi. Melihat situasi tanah air yang selama ini sedang terancam oleh Imperialisme Belanda, ia berusaha mempersatukan kembali kekuatan. Sementara itu Kerajaan Bone dan Kerajaan Buton sudah dalam kekuasaan Belanda. Kini tiba gilirannya Kerajaan Moronene, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga akan menjadi sasaran penguasaan Belanda.

Sebelum Pemerintah Belanda mengirimkan ekspansi militernya ke Moronene, Pemerintah belanda telah memberikan perhatian kepada Sangia Dowo, agar ia segera melaksakan isi perjanjian yang sudah disetujui oleh raja Moronene sebelumnya. Akan tetapi Sangia Dowo dengan tegas menyatakan bahwa pemerintahannya tidak mengenal adanya perjanjian itu, bahkan tidak bersedia samasekali menerima campurtangan Pemerintah Belanda atas pemerintahannya.

Untuk meyakinkan kehendak pemerintah Belanda itu, dikirimlah ekspansi militer Belanda ke Moronene dengan tujuan membujuk atau memaksa Sangia Dowo untuk menerima kehadiran pemerintahan Imperialisme Belanda di daerahnya.

Kehadiran pasukan Belanda di Moronene tidak disambut dengan baik oleh raja dan masyarakat setempat. Usaha untuk membujuk Sangia Dowo untuk mengadakan hubungan Kerjasama juga tidak mendapat sambutan dari raja dan penguasa-penguasa lainnya, sehingga perang terbuka antara kerajaan Moronene dan pasukan Belanda tidak dapat dielakkan.

Sebagai negara Imperialis, Taktik bujuk yang licik tetap menjadi kepiawaian pasukan belanda yang dipimpin oleh Kapten De Jonge. Melalui utusannya datang menghadap raja meminta damai dan berunding. Untuk perundingan tersebut pihak belanda meminta agar diselenggarakan diluar pusat kerajaan yaitu di Labu-A. Permintaan De Jonge ini diterima baik oleh Sangia Dowo karena tempat yang ditawarkan itu masih termasuk wilayah kerajaan Polea.

Selama 18 hari mereka berunding, Kapten De Jonge memperlihatkan keramahan dan kejujurannya. Sebagai seorang Raja yang kesatria, Sangia Dowo memercayai prilaku De Jonge yang munafik itu. Pada saat lanjutan perundingan, disuatu perjamuan makan Bersama, De Jonge memerintahkan seorang pengawalnya untuk membubuhi racun dalam makanan Sangia Dowo. Tanpa curiga sedikitpun, Sangia Dowo memakan hidangan yang telah disediakan baginya. Seketika itu juga Raja Polea itu kehilangan keseimbangan. Ia menyadari bahwa ia telah diracun oleh Belanda. Sebelum menghembuskan nafasnya yang penghabisan, beliau masih sempat mengucapkan pernyataan patriotiknya “Mate Yaho Poweweu Sawali Merukusi Yaho Dosa”

Membangun Karakter Generasi dari slogan patriotik Sangia Dowo

Eksistensi suatu daerah sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya. Hanya daerah yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai daerah yang bermartabat dan dihargai oleh suku bangsa lainnya. Oleh karena itu menjadi suku bangsa yang berkarakter adalah impian kita semua sebagai generasi Wonua Bombana. Meskipun sudah bukan hal yang baru lagi, namun harus diakui bahwa fenomena globalisasi adalah dinamika yang paling strategis dan membawa pengaruh dalam tata nilai dari berbagai bangsa-bangsa di bumi ini. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai ancaman yang berpotensi untuk menggulung tata nilai dan tradisi keadaban kita dan menggantinya dengan tata nilai yang populer di daerah lain.

Di era globalisasi yang tidak mampu menahan derasnya arus informasi dari dunia manapun, membuat generasi muda dengan mudah mengetahui dan menyerap informasi dan budaya dari daerah lain, demikian sebaliknya daerah manapun dapat dengan mudah mendapatkan segala bentuk informasi dan budaya dari negeri kita, disinilah “kekuatan karakter” diperlukan karena apabila karakter kita tidak kuat maka globalisasi akan melindas generasi muda kita. Padahal sejatinya generasi muda yang berkarakter kuat diharapkan dapat berperan menghadapi berbagai macam permasalahan dan persaingan di era globalisasi yang semakin ketat sekarang ini.

Untuk membentengi generasi khususnya pemuda dan pelajar di Wonua Bombana agar tidak terlindas oleh arus globalisasi maka diperlukan pembangunan karakter yang kuat. Membangun karakter tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, meskipun tidak mudah tetapi membangun karakter sangat penting, apalagi bagi generasi muda yang merupakan komponen yang paling rentan dalam menghadapi terpaan arus globalisasi. Karena bagaimanapun juga generasi muda Bombana adalah cerminan karakter Wonua Bombana, maka pewarisan karakter dari pendahulu, keteladanan para tokoh-tokoh dalam tindak tanduk ucapan dan perbuatan sangat berpengaruh.

Di tengah carut marutnya kehidupan masyarakat saat ini, tentunya sangat dibutuhkan orang-orang yang dalam setiap sepak terjangnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral kemanusiaan. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan individu-individu yang berkarakter dan memegang teguh nilai-nilai keadaban.

Tidak dapat kita sangkal dalam realitas hidup saat ini semakin banyak dijumpai para pemuka hingga tokoh politik dan pemerintahan di wonua ini belum mampu secara maksimal bemberikan keteladanan dalam laku dan ucap, janji-janji begitu mudah terucap lalu diabaikan. Segalanya dianggap biasa dan lumrah. pada konteks inilah pesan patriotik dari tokoh pejuang dan Raja Moronene Sangia Nilemba (Sangia Dowo) mate yaho poweweu sawali merukusi yaho dosa (mati itu biasa tetapi munafik itu berdosa) harus senantiasa terpatri dalam jiwa generasi Bombana, sebab hal ini menjadi bagian penting sebagai sebuah instrument pembentukan nilai dan karakter generasi muda dan pelajar di Bombana.

Kemarin, saat ini, esok dan selamanya Generasi Bombana tidak boleh lagi disekat oleh primordialisme dan etnosentrisme, Generasi Bombana jangan lagi dikotak-kotakan oleh fanatisme suku, ras dan golongan, Generasi Bombana sebisa mungkin mewarisi keteladanan Sangia Dowo, Generasi Bombana wajib meninggalkan dan menjauhi karakter LICIK dan MUNAFIK Belanda. Wonua Bombana harus menjadi cermin peradaban yang kuat. Konsistensi atas ucapan dan janji-janji harus menjadi karakter generasinya termasuk SAYA, ANDA dan KITA semua.

Semoga arwah leluhur para pejuang terdahulu dari alamnya bisa melihat dengan bangga bahwa generasi wonua bombana hidup dalam damai dan cinta.

 

* Penulis adalah Pemerhati Budaya dan pariwisata Kabupaten Bombana

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA