oleh

Aktivis Perempuan Dalam Novel “Gadis Pembangkang”

-Harapan, TOKOH-11.079views

Seorang gadis peraih beasiswa pabrik semen merayakan keperantauannya ke Jakarta. Ia besar di Randu Alas, desa fiksi yang terletak di kota imajiner bernama Kabupaten Jawa Pegunungan. Dengan meninggalkan desanya, ibu, bapak, lingkungannya, ia sedang membebaskan diri dari kungkungan moral, adat, norma, standar kebenaran masyarakatnya.

Gadis cantik itu pendebat ulung. Keras. Selama kuliah, ia gabung organisasi HMI dan terlibat aksi berbahaya menentang dekan mesum dan kekuasaan yang sewenang-wenang. Sikap keras menolak segala bentuk hegemoni cuci otak patriarki yang dilancarkan melalui mulut dosen, membuatnya selalu berkelahi dengan pengajar di kelas.

Muak dengan budaya patronase yang memperbudak kaumnya, ia memilih jalan sunyi seorang aktivis idealis yang tak bisa dibeli. Ia terus menentang, maju, mendobrak, menerjang tirani.

Ia tak berjilbab, tapi peka sosial. Untuk menuntut balas rasa sakit hati rakyat yang kena banjir dan musibah kerusakan alam, Roro Lanjar, nama Si Gadis Pembangkang, mengacak-acak panggung pernikahan anak Bupati korup. Ia nekad melempar telor busuk ke jidat bupati saat semua kamera wartawan sedang meliput pentas seni di balai kota. Aksi inspiratifnya (red; nekad) sungguh berani, viral di media sosial hingga tersebar ke seantero negeri.

Bupati yang sok terhormat tak terima, ia dendam pada calon mantu kurang ajar itu. Akhirnya si kepala daerah korup memenjarakannya karena dianggap memfitnah dan menganiaya martabat penguasa. Bukannya melemah, Sang Pembangkang malah makin menantang dan melawan. Ia benar, maka ia tak mundur.

Bila yang benar mengalah, bumi akan jatuh dipimpin para bandit. Ia merasa dilahirkan ke dunia semata-mata untuk berperang melawan koruptor dan lelaki bajingan otak mesum.

Karena sikap kritis dan kokohnya melawan pejabat korup, nyawanya terancam. Ia diburu intel. Kematiannya dinantikan banyak elit. Hingga akhirnya ia ditabrak mobil hitam di suatu malam yang hampir melenyapkan jiwanya. Babak belur, patah tulang, sekarat.

Ia diincar celaka agar cepat mati. Ia dikeroyok The invisible hand yang terganggu sikap kritisnya. Merasa akan dibunuh, ia bertekad menuliskan kronologi perjuangan hidupnya dengan segala pemikiran dan pesannya untuk kemerdekaan kaum perempuan Indonesia.

Tak sampai di situ, di atas ranjang rumah sakit pun, ia masih diburu pembunuh bayaran. Hingga akhirnya kejahatan benar benar menang dan berhasil menghabisinya. Kematiannya membuat Indonesia berduka. Semua aktivis HAM menangis mendengar ia dibunuh di atas bangsal. Penulisnya yang juga Aktivis frontal, cerdik menyelipkan pesan-pesan perlawanan pada tiap momen. Membaca novel ‘Gadis Pembangkang’ membuat kita paham makna sejati anarkisme.

Iya, Mualimin nama pengarangnya. Saya kenal dan menjadi sahabatnya sudah lebih dari tiga tahun. Sejak pertama berjumpa hingga hari ini, dia tidak berubah. Tetap sederhana, kalau bicara provokatif, berani, dan sikap blak-blakan membuatnya rawan konflik dengan senior yang terkenal punya pengaruh kuat di HMI.

Saya bangga punya kawan seorang penulis produktif dan selalu memikirkan arah gerak roda sejarah bangsanya. Saya pertama mengenal Master Mualimin dalam sebuah training dan sejak itu kami menjadi kawan yang akrab. Meski sifat kita berbeda jauh, perbedaan pandangan tidak menjadikan itu tembok pembatas.

Dia adalah anak Tuban pengelana, para cucu pewaris karakter keras Adipati Ronggolawe, pengusung gigih berdirinya Majapahit yang mati nahas sebagai pemberontak pertama.

Buku baru itu berjudul Gadis Pembangkang. Terbit di Jakarta pada tahun ini, 2020. Penulisnya terkenal di dunia pergerakan dengan nama Mualimin Melawan alias Muhammad Mualimin.

Bergenre Novel Realist-Fiction (Re-Fi), novel itu akan memprovokasi tiap pembaca agar melawan dosen dan kampus. Itu novel yang sangat berbahaya bagi lelaki brengsek, dan setiap rektor harus hati-hati bila mahasiswanya membaca bukunya Mualimin.

Dengan tebal lebih dari 260 halaman, novel pergerakan itu sangat berat, isinya penuh ajakan berpikir keras, namun akan memuaskan untuk nutrisi otak aktivis. Terus berkarya kawan. Aku mendukung setiap gagasanmu memerangi patriarki di Indonesia.

(Review ditulis oleh Ketua Umum HMI Cabang Tangerang, Tibayuda Laksana)

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA