oleh

Dinkes Wakatobi Lokus Penanganan Stunting di 18 Desa Kelurahan

Wakatobi, Harapansultra.com | Pemerintah kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara melalui dinas kesehatan melokuskan pencegahan dan penurunan angka stunting di 18 (delapan belas) desa dan kelurahan. Hal itu telah diformulasikan dalam bentuk regulasi tentang Peran Desa Dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi.

18 (delapan belas) desa dan kelurahan tersebut diantaranya di kecamatan Wangi-wangi Selatan pada desa/kelurahan Kabita, kecamatan Kaledupa Selatan pada desa/kelurahan Peropa, Kasuwari, Tampara, di kecamatan Tomia pada desa/kelurahan Teemoane, Waitii Barat, Lamanggau dan Runduma.

Selanjutnya di pulau pengrajin besi kecamatan Binongko pada desa/kelurahan Jayamakmur, Lagongga, Wali, Makoro. Di kecamatan Togo Binongko pada desa/kelurahan Waloindi, Oihu, Haka, Popalia dan Siwa.

“dari 100 (seratus) desa dan kelurahan yang ada di kabuapten Wakatobi, berdasrkan hasil analisi situasi diputuskan 18 (delapan belas) desa yang menjadi lokus stunting. Kriteria desa lokus stunting yaitu berdasarkan angka prevalensi stunting dan rendahnya 20 (dua puluh) indikator layanan Cakupan,” terang Kepala dinas kesehatan Wakatobi, Muliaddin di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2020).

Nama-nama Desa/Kelurahan Prioritas Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten Wakatobi

Dalam pelaksanaannya, upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting dilakukan dengan 8 aksi mulai dari tahap analisis situasi, rencana kegiatan, rembuk stunting.

Aksi ke empat peraturan bupati tentang peran desa dalam pencegahan dan penurunan stunting, pembinaan KPM (Kader Pemberdayaan Masyarakat), sistem manajemen data, pengukuran dan publikasi stunting kemudian yang terakhir review kinerja tahunan.

Kepala dinas kesehatan kabupaten Wakatobi , Muliaddin.

“Kami pada saat ini baru pada tahap aksi keempat, sebenarnya sudah harus tahap ketujuh cuma karena corona ini makanya masih terkendala targetnya sampai bulan 11 ini kami akan selesaikan semua aksi,”cetusnya.

Dinkes Konvergensi Penanganan Stunting Ke OPD Terkait

Rembuk Stunting Tingkat Kabupaten Wakatobi, Wangi-wangi, 25 Juni 2020.

Selain melokuskan pencegahan dan penanganan stunting di desa dan kelurahan, Dinas Kesehatan kabupaten Wakatobi juga melibatkan semua OPD yang terkait.

selain itu, untuk menurukan angka prevalensi stunting dinas kesehatan kabuapten Wakatobi memastikan 20 indikator layanan cakupan dapat dilaksanakan. Yang mana, 11 (sebelas) indikator itu merupakan intervensi spesifik yang dilakukan oleh dinas kesehatan dan 9 (sembilan) lainnya merupakan intervensi spesifik yang dilakukan OPD terkait, desa dan kelurahan.

Konvergensi Penanganan Stunting Ke OPD Terkait bukan tanpa alasan, kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan kabupaten Wakatobi, Rosmina menjelaskan, prevalensi angka stunting sangat dipengaruhi oleh faktor kesejahteraan. Misalnya, kaitannya dengan dinas ketahanan, dinas KB, dinas sosial, pertanian dan lain-lain.

“Dinas ketahanan pangan dalam hal ini memastikan stok pangan yang dikonsumsi masyarakat masih cukup memenuhi status gizinya. Begitupun dengan dinas Sosial, bantuan-bantuan seperti PKH dan bantuan-bantuan lain menjadi salah satu cara pencegahan stunting. Dengan bantuan-bantuan itu kebutuhan akan makanan yang menjadi sumber gizi dapat dipenuhi,”ucap kepada bidang Kesehatan Masyarakat, Rosmina, Selasa (11/8/2020).

Selain itu, konvergensi stunting ke setiap OPD didukung dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan di tahun berikutnya. Untuk itu pihaknya melakukan identifikasi program pada 15 (lima belas) dinas terkait sebelum penetapan Renja (Rencana Kerja).

“Kemudian aksi yang ketiga adalah rembuk stunting. Ada 15 (lima belas) OPD yang terkait dengan pencegahan dan penurunan angka stunting ini, kemudian kecamatan dan desa. Kemudian kami mengumumkan tentang 18 (delapan belas) desa lokus ini. Dan gambaran kegiatan yang akan dilakukan tahun depan,”jelasnya.

Sasaran Pencegahan Stunting

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Rosmina di Ruang Kerjanya.

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Dijelaskan Rosmina, Bahwa sasaran pencegahan stunting dapat ketahui pada anak yang berusia 1.000 (seribu) hari pertama lahir. Hitungan disini sejak anak masih dalam kandungan dan baru akan terlihat pada usia anak 2 (dua) tahun.

“Sejak ibu dikatakan hamil maka harus sering melakukan pemeriksaan rutin minimal empat kali, kemudian harus diimunisasi, kemudian harus bersalin di faskes dan harus makan makan yang bergizi,”jelasnya.

Ia melanjutkan, faktor lingkungan yang yang berperan dalam perawakan pendek pada anak diantaranya status gizi, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, kebersihan lingkungan dan angka infeksi di awal kehidupan seorang anak.

“Termasuk sumber air bersih dan sanitasi juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya stunting. Kemudian hubungannya dengan KB, biar dia juga sudah ikuti 11 intervensi oleh kesehatan tetapi jika anak bersusun pasti ada yang tidak terurus, kebersihan pasti tidak terjaga karena tidak terfokus ke satu anak,”pungkasnya. (ADV)

Laporan ; Samidin

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA