
Bombana, HarapanSultra.COM | — Siapa sangka, dari pelosok Sulawesi Tenggara, sebuah lompatan prestasi lahir dari dedikasi dan kerja sunyi para bidan, penyuluh, dan tenaga kesehatan. Dalam rangka memperingati Hari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Bombana berhasil mencatatkan sejarah manis. Mereka meraih peringkat pertama se-Sultra dalam pelaksanaan pelayanan KB gratis dengan capaian mengejutkan: 307,35 persen dari target yang ditetapkan.
Prestasi ini bukan sekadar angka. Di balik capaian tersebut tersimpan cerita tentang gerakan bersama, kerja lintas batas kecamatan, dan kolaborasi tanpa pamrih antara penyuluh KB, bidan desa, hingga aparat pemerintah tingkat lokal. Dari titik-titik pelayanan di pelosok desa, mereka hadir membawa semangat yang sama: keluarga sehat, masyarakat sejahtera.
“Alhamdulillah, ini bukan hanya soal peringkat, tapi tentang bukti nyata semangat seluruh jajaran DPPKB, para bidan, dan penyuluh KB yang terus memberi pelayanan terbaik di lapangan. Prestasi ini adalah milik masyarakat Bombana,” ujar Kepala DPPKB, Drs. H. Abdul Azis, M.Si, dengan nada haru dan bangga.
Pelayanan KB gratis ini dilaksanakan secara menyebar di berbagai kecamatan. Tidak hanya menyodorkan alat kontrasepsi, tetapi juga membawa edukasi yang menyentuh: tentang pentingnya perencanaan keluarga, menjaga kesehatan reproduksi, dan membangun rumah tangga yang harmonis dan terencana. Tiga jenis layanan—KB pil, suntik, dan implan—diberikan secara cuma-cuma oleh bidan-bidan tangguh yang tak kenal lelah.
Salah seorang bidan, Lisa Susanti Tonapa, S.Tr.Keb, menjadi salah satu garda depan. “Kami tidak hanya ingin masyarakat terlindungi secara kesehatan, tapi juga merasa didampingi. Ketika keluarga punya kendali atas rencana masa depan mereka, di situlah kesejahteraan dimulai,” ungkapnya sambil mempersiapkan peralatan di satu sudut pos pelayanan.
Tak hanya layanan medis, kegiatan ini juga menjadi panggung penyuluh KB untuk turun langsung menyapa, menjelaskan, dan meyakinkan masyarakat bahwa KB bukanlah sekadar program pemerintah, tetapi adalah hak untuk hidup yang lebih berkualitas. Edukasi dilakukan secara santai, hangat, dan menyentuh—membuat masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan.
Yang membuat capaian ini makin istimewa, program Bangga Kencana di Bombana dijalankan dalam kondisi penuh tantangan—termasuk keterbatasan infrastruktur dan geografis. Namun semua itu tak menjadi penghalang. Justru menjadi pelecut semangat untuk menunjukkan bahwa pelayanan publik bisa unggul di mana saja, selama niat dan komitmen menyala.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika program nasional dikawal oleh jiwa pengabdian, hasilnya bukan hanya tercapai, tetapi melampaui harapan. DPPKB Bombana pun tidak berhenti di sini. Mereka berkomitmen menjadikan daerahnya sebagai percontohan di tingkat provinsi, bahkan nasional, dalam pelayanan KB yang inklusif dan berdampak luas.
Hari IBI tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar peringatan. Ia menjadi panggung apresiasi, bukan hanya bagi bidan, tetapi bagi seluruh pelaku perubahan yang berada di balik layar pelayanan KB. Dari ruang pelayanan yang sederhana, mereka telah mengukir prestasi luar biasa untuk Bombana dan untuk Indonesia.
Karena keluarga adalah awal dari segalanya, dan mereka yang menjaga keluarga sehat—layak mendapat tempat di puncak prestasi. Bombana telah membuktikannya.







