oleh

Inilah Wajah Infrastruktur Era Arhawi

Wakatobi, Harapansultra.com | Menjadi kepala daerah untuk menuntaskan idenya mengenai infrastruktur sebelum gencar mempromosikan secara masif Wakatobi adalah tekad Arhawi. Konsep di luar kepalanya itu sudah diupayakan sejak ia merintis karirnya di dunia politik.

Atas dukungan dan do’a masyarakat, tahun 2016 hingga tahun 2020 adalah masa dimana Arhawi membangun kabupaten maritim ini. Program yang dicetuskan sejak kampanye, dijalankan dengan sungguh-sungguh. Tidak sia-sia, puluhan proyek dengan dana puluhan milyar mampu didatangkan ke Wakatobi.

Arhawi saat meninjau lokasi untuk pembukaan jalan baru di Kaledupa ( foto diambil sebelum Pandemi)

Upayanya membangun secara sistematisnya itu hingga disebut oleh Badalan, salah satu anggota DPRD Wakatobi, sebagai bapak pembangunan.

“Kita bisa saksikan sendiri, betapa majunya peradaban kabupaten Wakatobi sejak Arhawi memimpin, anggaran hingga triliunan rupiah bisa masuk di Wakatobi. Inilah bapak pembangunan kita,”ucapnya, Rabu (19/8/2020) di Kaledupa.

Tekad membangun secara sistematis dari hulu hingga hilir dari ibu kota hingga pedesaan merupakan konsep yang Ia tetap dengungkan. Arhawi mengatakan, sebagai daerah yang dikenal dengan potensi pariwisatanya, pembangunan infrastruktur kabupaten Wakatobi harus dimulai dari pintu-pintu masuk dan tempat-tempat vital pariwisata. Untuk itu, pembangunan jalan, pembangunan perkantoran, Pembangunan Pelabuhan dan Jembatan, Ruang Publik, Pasar hingga tempat ibadah mesti menjadi hal utama.

“Di Wangi-wangi, jalan-jalan sudah hampir terhotmix semua, di pulau Kaledupa, Tomia dan Binongko proses pengerjaan jembatan Feri sudah hampir tuntas. Pembangunan Puskesmas untuk tempat berobat, sudah kita selesaikan,”ucapnya.

 

Pembangunan dan Pembukaan Jalan Baru Capai Ratusan Kilometer

Tampak Jalan di Wangi-wangi

Dimasa kepemimpinannya, Bupati Arhawi telah menggenjot pembangunan dan pembukaan jalan di sejumlah titik di Wakatobi hingga panjangnya mencapai ratusan kilometer.

Selain pembukaan jalan baru, dipulau wangi-wangi kondisi jalan yang semula rusak hingga 5,30 Km dan rusak parah 100,05 km sudah berangsur-angsur di permulus.

Misal saja di Kecamatan Wangi-wangi Selatan dilakukan kegiatan pembangunan di sejumlah ruas-ruas jalan Bonto Liya sepanjang 1.065 meter, pembangunan jalan Kadie Mandati dengan panjang 1.096 meter, serta jalan Pondok Pesantren Rabanai Desa One Melangka sepanjang 300 meter.

Di tahun 2019 kemarin, pembukaan jalan di Kecamatan Wangi-wangi Selatan jalan poros menuju Gedung Olahraga (GOR) sepanjang 482 meter serta jalan menuju Pantai Udin One Melangka sepanjang 243 meter.

“Untuk Kecamatan Wangi-wangi, Pemda Wakatobi merealisasikan pembangunan Jalan Desa Waelumu dan Desa Tindoi dengan panjang 640 meter, juga pembangunan median Jalan BayPass sepanjang 720 meter dan pembukaan jalan Pelabuhan penyeberangan Feri 163,5 meter,”ucap kepala dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kabupaten Wakatobi, Kamaruddin di ruang kerjanya, Rabu 12/8/2020).

Kepala dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Wakatobi, Kamaruddin

Pembangunan jalan untuk pulau Wangi-wangi dinilai sudah cukup baik, Kamaruddin mengatakan hal itu bisa dibuktikan dengan berkeliling menggunakan kendaraan, sepanjang ruas jalan di pulau Wangi-wangi sudah sangat mulus.

Kamaruddin melanjutkan, di Pulau Kaledupa juga dilaksanakan di Kecamatan Kaledupa. Misalkan pembukaan Jalan Belo Belona sepanjang 250 meter, lanjutan pembangunan Jalan Horuo-Mantigola sepanjang 400 meter dan lanjutan penimbunan jalan Pasar Kaledupa.

Sementara untuk Pulau Tomia dan Binongko, masing-masing di fokuskan pada kegiatan pembangunan jalan masuk Pelabuhan Feri. Di Tomia sepanjang 178 meter dan Pulau Binongko sepanjang 75 meter.

Pada tahun mendatang, Program hibah dari Australia juga akan mulai bergeser ke Wakatobi II (Dua). Diiungkapkan kepala dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Kamaruddin di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2020), Pulau yang telah dilirik dari PUPR Wakatobi untuk mendapatkan PHJD tahun 2021 mendatang adalah pulau Tomia, hanya saja untuk membawa program penunjang pariwisata ini perlu ada peninjauan terlebih dahulu oleh Tim dari Australia.

“Wangi-wangi sudah cukup bagus jalannya, kalau hanya untuk perbaikan jalan nantinya. Kita tidak mesti menggunakan PHJD, kita bisa memakai anggaran lain,”cetusnya.

Dari sisi kelayakan, pulau Tomia menurutnya sudah sangat cukup. Baik dari segi Inlet maupun outlet pariwisata, aksesibilitas seperti bandara serta pariwisata yang sudah cukup tertata baik. Sedangkan untuk pulau lainnya, sembari menunggu PHJD pembangunan jalan akan tetap dilakukan menggunakan anggaran yang telah disediakan.

“Setelah disurvei akan dilihat apakah Tomia layak atau tidak untuk mendukung pariwisata. Kalau bukan karena pandemi ini, Mereka sudah akan lakukan itu,”pungkasnya.

Untuk perbaikan jalan menggunakan PHJD, penunjang lain yang mesti dibuat di pulau Tomia perlu adanya Aspal Mixing Plant (AMP) untuk keperluan aspal Hot mix.

 

Kawasan Perkantoran Capai Rp 22,1 Miliyar, Rencana Tuntas Tahun 2022

Master Plan Kawasan Perkantoran

Pembanguan kawasan Perkantoran Bupati dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi telah digenjot sejak tahun 2018 lalu. Didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Wakatobi, rencana pekerjaan tuntas dilakukan tahun 2022 mendatang. Atau jika sesuai perencanaan, pada tahun tersebut sudah bisa difungsikan.

Pada tahun 2018 anggaran yang digelontorkan Pemkab Wakatobi untuk tahap pertama capai Rp 9,6 miliyar. Lalu dilanjutkan pada tahun 2019 sebesar Rp 5 miliyar. Sementara tahun ini dianggarkan lagi sebanyak Rp 7,5 miliyar.

La Ode Almuktadir, Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (Bappeda) Wakatobi menjelaskan tahap pertama pembangunan ini dimulai sejak tahun 2018.

Kalau perencanaan kita tuntaskan pada tahun 2022. Tapi, kita tahu bahwa yang namanya perencanaan kadang kita menemui kendala saat proses pembanguan. Tapi, kita harapkan semoga berjalan sesuai rencana dan lancar hingga selesai, ujarnya, Jumat (18/9).

Jika tak ada aral melintang, pada tahun 2022 nanti selain Kantor Bupati dan Sekretariat Daerah (Setda), baru ada sebanyak empat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang akan berkantor di lokasi ini.

Termasuk Kantor Bupati, Setda, Bappeda hingga Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), dan ada satunya OPD lagi di sana, terangnya.

Namun La Ode Almuktadir mengaku untuk anggaran yang direncanakan tahun 2020 ini ada yang di refocusing untuk penanganan covid-19.

Tapi kalau yang itu karena lanjutan pekerjaannya sudah di Dinas PU dan Penataan Ruang Kabupaten Wakatobi, jadi di sana yang lebih tahu secara tekhnisnya, beberanya.

Sekedar diketahui, pembanguan perkantoran Bupati dan Pemda Wakatobi berdiri di atas kawasan dengan luas kawasan perencanaan sekitar 41,72 Ha. Pembangunannya berada di antara Desa Wungka dan Desa Komala di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan dan lokasinya tak jauh dengan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Wakatobi dan rumah jabatan Wakil Bupati Wakatobi.

Empat Pulau di Wakatobi Terbangun Dermaga Feri

Gambar Dermaga Feri di Pulau Kaledupa

Mulai dikerjakan tahun 2018 lalu, akhirnya pembangunan dermaga penyeberangan Feri pulau Kaledupa di desa Ollo masuk tahap ke tiga atau akhir. Jika tidak terkendala wabah Covid-19, Kementerian perhubungan (Kemenhub) menargetkan proyek yang sudah menelan puluhan milliar uang negara ini sudah beroperasi pada 2021 mendatang.

“Artinya ini target sebelum ada wabah corona. Kita tidak tau, apakah ada perubahan kedepannya atau tidak,” terang Kepala Dinas Perhubungan (Kadis Hub) Kabupaten Wakatobi, Hariadin.

Untuk tahap pekerjaan akhir, tahun 2020 ini, pusat kembali menggelontorkan anggaran senilai Rp 19 milliar. Sekedar diketahui bahwa pada pekerjaan tahap kedua di 2019, proyek ini menghabiskan Rp 21’7 milliar. Sementara untuk tahap awal di 2018 lalu, menelan anggaran senilai Rp 5,5 milliar.

Hariadin mengatakan bahwa berdasarkan perencanaan, Dermaga penyeberangan Feri Kaledupa bakal melayani tiga rute pelayaran dari ke pulau Kaledupa- Wanci- Kamaru Kabupaten Buton.

“Rencana Kamaru- Wanci, Kaledupa, dengan menggunakan Fery yang ada,”tandasnya.

Bukan hanya untuk Pulau Kaledupa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab), lewat Dinas Perhubungan (Dishub) Wakatobi juga berhasil menggenjot pembangunan dermaga penyeberangan Feri Pulau Tomia dan Binongko.

Direktur Transportasi Danau dan penyeberangan Ditjen Darat Kementerian Perhubungan, Marwanto Heri Santoso saat meninjau Dermaga Feri

Mulai dikerjakan pada tahun 2019, kedua proyek ini masing-masing digelontorkan Rp 46 milliar. “Kalau untuk Tomia dan Binongko pekerjaannya juga sementara berjalan,” tegas Kadis Perhubungan Kabupaten Wakatobi, Hariadin.

Dirinya harapkan, proyek pusat ini tuntas tepat waktu. Apalagi pihak Kementerian menargetkan Dermaga Feri Tomia dan Binongko selesai tahun 2021 mendatang.

“Jika pembangunan tersebut berjalan dan sesuai target Kemenhub, makka operasionalnya tahun 2022 nanti,” paparnya.

Perlu di ketahui, untuk Dermaga Feri di Pulau Tomia berlokasi di Desa Kollo Soha. Sementara di Binongko berlokasi di Desa Makoro.

25 Pasar Terbangun

Situasi Pasar Sentral, Jumat (17/9/2020)

Di tahun 2017 lalu, pusat mengucurkan anggaran Rp 6 milliar lewat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Wakatobi yang dibangunkan pasar tipe C di Pulau Wangi-wangi.

Selanjutnya di tahun 2018, Pemkab Wakatobi kembali mendapat suntikkan anggaran 6,54 milliar. Anggaran itu digunakkan untuk membangun sebanyak 7 bangunan pasar rakyat seperti Pasar Patuno, Pasar Marina, merevitalisasi Pasar Buranga Pulau Kaledupa, pembangunan pasar Teewali di Kaledupa Selatan, Pasar Waitii Tomia, dan penambahan jumlah kios pasar Tomia Timur.

“Dua di pulau wangi-wangi, dua di pulau Kaledupa, dua di pulau tomia dan satu di pulau Binongko,” papar KaDis Perindag Wakatobi, Saifuddin, Jum’at (18/9/2020).

Di tahun 2019, Disperindag Wakatobi kembali menerima alokasi pembantuan kisaran 10,3 milliar. Anggaran itu Rp 6,3 milliar untuk pembangunan pasar Tipe C Pasar Sentral, dan membangun Pasar tipe D senilai 4 milliar.

Di tahun yang sama, Disperindag Wakatobi juga menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) kisaran Rp 2,5 milliar. Anggaran itu dibangunan yang pasar Rakyat Mandati, Kecamatan Wangi-wangi Rp 1,6 milliar, Rp 2,5 miliarnya lagi dibangunkan di pulau Kaledupa.

“Khusus untuk pembangunan pasar tahun lalu mulai dari pasar Tipe D, Tipe C dan Pasar Rakyat, itu sekitar 13 milliar dari pusat,” ujarnya.

Untuk tahun 2020 ini, Pemkab kembali keciprat alokasi tugas pembantuan Rp 3 milliar. Sebenarnya kata Saifuddin, kalau bukan wabah Covid 19, pihaknya mendapat suntikkan Rp 3,5 milliar, hanya saja di hapus oleh pemerintah pusat. Itu untuk pembangunan pasar di Mandati yang letaknya nanti dibagian pasar RB, rencananya pekerjaannya sudah mulai berjalan pada bulan insya Oktober ini. Jadi kalau kita hitung-hitungan selama periode pak bupati ini sudah ada Rp 25 miliar pusat membantu untuk pembangunan pasar di Wakatobi.

Ia merincikan, pasar yang telah dibangun di Pulau Wangi-wangi sebanyak 3 bangunan. Yakni pasar Patuno, pasar Marina, dan pasar pagi. Sementara untuk wilayah Wangi-wangi selatan ada Pasar Kabupaten 1, Pasar Sentral 2 dan pasar rakyat Mandati.

Sementara di Pulau Kaledupa sampai dengan hari ini ada 3 pasar yang dibangun, pasar Laolua, pasar buranga dan pasar Teewali. Kemudian di pulau Tomia, pasar Usuku, pasar Waitii. Kemudian untuk Pulau Binongko, sebanyak 3 pasar, di Togo Binongko ada pasar Popalia, kemudian di Kecamatan Binongko ada pasar Makoro dan pasar buah.

Poles Ruang Publik Penunjang Pariwisata

Gambaran Marina di Malam Hari

Ruang publik yang ada di kabupaten Wakatobi juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Mulai dari Wangi-wangi hingga pulau terujung Binongko, Ruang Publik ditata dengan indah.

Di Wangi-wangi, Beragam design ruang publik yang di buat oleh pemerintah kini sudah jadi dan mulai digunakan. Ruang Publik Marina salah satunya. Ruang publik ini ditata bukan hanya sebagai tempat rekreasi dan bersantai oleh masyarakat. Tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengais pundi-pundi rupiah.

“Tempat-tempat seperti ini pembeli tak susah dicari. Pendapatanku lumayan menghidupi anakku”, sebut Nasri, perempuan pedagang kaki lima di Bipass Marina.

Ruang publik di pulau Wangi-wangi juga merambah ke desa-desa, di puncak seperti Pookambua terdapat ruang publik yang dinamai Darakunti, di sepanjang pesisir pulau Wangi-wangi ruang publik yang sudah tersedia terdapat di beberapa desa misalnya saja di desa Sombu, Waha, Waelumu, Sousu hingga desa Liya One Melangka.

Di pulau Kaledupa ruang publik juga sudah dibangun, bagi masyarakat setempat tidak asing lagi dengan tempat yang dibangun di pesisir kecamatan Ambeua, tempat yang ada tulisan terpampang Gau Satoto. Di pulau yang sama, di beberapa desa sudah dibangun tempat-tempat terbuka hijau seperti di Peropa.

Di Tomia juga tidak kalah dengan ruang publik. Disana terdapat ruang publik di pesisir pantai yang disebut dengan pantai Lakota dan puncak Kahianga. Seperti pulau-pulau lain, di beberapa desa juga sudah mengembangkan taman-taman terbuka hijau.

Sedangkan di Binongko, ikon yang sudah dibangun dan akan menjadi daya tarik pulau terujung ini adalah monumen Seribu Parang. Simbol parang adalah karakter masyarakat Binongko yang banyak berprofesi sebagai pengrajin besi. Selain itu, dengan potensi pesisir yang masih alami, Pemerintah membuat taman untuk bersantai dan berfoto di pantai One Melangka.

Tempat Ibadah Tidak Luput jadi Perhatian Pemerintah

Peletakan batu pertama pembangunan masjid

Selain membangun jalan, perkantoran, dan sebagainya, pemerintah Kabupaten Wakatobi dimasa Arhawi dan Ilmiati Daud juga membangun tempat-tempat ibadah.

Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Wakatobi sejak tahun 2017,2018,2019 sampai tahun 2020 ini telah serahkan Dana Hibah untuk Pembangunan 35 Masjid di Kabupaten Wakatobi.

“Dari 35 Masjid tersebut dana APBD Wakatobi yang telah tersalurkan  sebanyak 4.650.000.000. hal ini diungkapkan oleh Kasubag Agama, Wa Ode Dangsahara, Jumat (18/9/2020) diruang kerjanya.

Kasubag Agama menjelaskan, Dua Masjid yang mendapatkan bantuan Dana Hibah diantaranya adalah Masjid Nurul Hidayah  Desa Kapota Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Taipabu Kecamatan Binongko.

Kata dia, bahwasannya, Dana Hibah Pembangunan Masjid dari Pemerintah Kabupaten Wakatobi ini bersumber dari APBD Wakatobi.

Bahwa penyerahan Dana Hibah Pembangunan Masjid ini merupakan program Pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk mendukung dan meningkatkan kegiatan keagamaan. Tentunya dana yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan termasuk pembangunan masjid.

Semoga dengan adanya bantuan dana hibah ini dapat membantu pembangunan masjid dan kegiatan lainnya, sehingga masjid ini nantinya selain tempat ibadah, juga menjadi tempat untuk melaksanakan kegiatan pendidikan keagamaan, dan aktivitas sosial agama lainnya, ungkapnya.

Terkait jumlah Masjid, Kepala Bagian Kesra Setda Wakatobi melalui Kasubag Agama, Wa Ode Dangsahara, mengatakan jumlah masjid di Kabupaten Wakatobi sebanyak 155 Masjid.

Untuk di kecamatan Wangi-Wangi berjumlah 50  Masjid, kecamatan Wangi-Wangi Selatan berjumlah  34 Masjid, kecamatan Kaledupa berjumlah 16 Masjid, kecamatan Kaledupa Selatan berjumlah 13 Masjid. Kecamatan Tomia berjumlah 14 Masjid, kecamatan Tomia Timur berjumlah 10 Masjid, kecamatan Binongko berjumlah 8 Masjid, dan kecamatan Togo Binongko berjumlah 10 Masjid, ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wakatobi melalui kepala Seksi Bimas Islam H. Mashudin, S.Ag menuturkan bahwa sebanyak 154 masjid dan 20 musholla yang ada di Kabupaten Wakatobi sebanyak 11 Masjid  di Pulau Wangi-Wangi yang sudah di ukur arah kiblatnya.

Untuk Masjid yang arah kiblatnya sudah diukur oleh Kemenag Wakatobi ada 11 Masjid. Yakni, Masjid Ahlatulqarima Desa Koroe Onowa, Masjid Fastabiqulqairat Desa Waelumu, Masjid Al Hijrah Desa Liya Onemelangka, Masjid Al Jumuah Desa Komala, Masjid Nurul Iman Kelurahan Wandoka Selatan, Masjid Darul Ilmi Kelurahan Wanci, Masjid  Baburahman Kelurahan Pongo, Masjid At Taqwa Desa Longa, Masjid Al Fatah Kelurahan Wanci, Masjid Asuna Alrahman Kelurahan Pongo, Masjid Nurul Haq Kelurahan Mandati II, dan mushalla Ar Rahman dikompleks perkantoran Manugela (Perindag).

Lanjut kata dia, upaya yang dilakukan Kemenag Kabupaten Wakatobi dalam pengukuran arah kiblat pihaknya menunggu informasi dari pihak pengurus masjid.

Untuk pengukuran arah kiblat Masjid ini kita tidak serta merta kita datang ke Masjid untuk langsung ukur, akan  tetapi kita menunggu permintaan dari pengurus masjid untuk di ukur arah kiblatnya, kata kepala Seksi Bimas Islam H. Mashudin, S.Ag saat ditemui di ruang kerjanya. Jumat {18/9/2020}.

Pihaknya  juga sudah menyampaikan melalui khutbah jumat, kemudian cerama di majelis taklim melalui para penyuluh dan para KUA untuk menyampaikan kepada pengurus Masjid dan masyarakat bahwa kantor Kementerian Agama Kabupaten Wakatobi telah siap untuk mengukur arah kiblat ketika itu diminta oleh pengurus Masjid.

Karena kita sudah memiliki alat ukur dari lembaga hisab ruqiyat indonesia yang dikirim langsung dari Jakarta. Untuk saat ini baru Masjid yang ada di Pulau Wangi-Wangi yang kita ukur arah kiblatnya, ujarnya. (ADV)

Laporan ; Samidin

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA