oleh

Reaksi Keluarga Korban Tabrakan Saat Pelaku Dihukum 4 Bulan Penjara

Baubau, HarapanSultra.COM | Keluarga dari Almarhumah Desti Kurnia (18) yang menjadi korban Lakalantas di Jalan Dr Wahidin, Kelurahan Wameo, Kecamatan Batupoaro 14 Mei 2019 lalu, bereaksi atas vonis empat bulan yang dijatuhkan pada pelaku tabrakan, Kamis (22/08/2019).

Keluarga korban melalui kuasa hukumnya, Muhammad Agussalim sangat menyesalkan putusan pengadilan yang menurut anggapannya putusan tersebut mencederai nilai-nilai keadilan hukum. Dengan keputusan yang dijatuhkan kepada pelaku Darmawati (52), keluarga korban merasa terpukul dan kecewa.

Saya selaku kuasa hukum keluarga korban menyesalkan putusan dan tuntutan selama empat bulan yang kami nilai mencederai nilai-nilai keadilan meski tuntutan dan putusan ini masih dalam koridor hukum. Kepastian dan keadilan hukum harus berjalan serasi dalam sistem peradilan pidana. Pasal 310 ayat 4 UU 22/2009 menyebutkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian dipidana maksimal enam tahun,”ucap Agussalim via Watshap.

sehingga Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang berinisiatif menuntut empat bulan menurutnya adalah hal yang tidak rasional meski dalam perkara ini terdapat surat perjanjian perdamaian tapi haruslah jaksa tetap membela hak-hak korban untuk menuntut setinggi-tingginya.

Praktisi hukum keluarga korban

Selain itu, sebagai praktisi hukum ia pun menyesalkan sikap JPU yang seakan mencuri kewenangan hakim sebagai juri yang menimbang dan memutuskan.

“Dalam pertemuan kami dengan JPU di kejari bau-bau, alasan JPU menuntut tersebut adalah fakta dipersidangan dan surat perdamaian serta pemberian santunan kepada keluarga korban. Menurut kami, tuntutan empat bulan adalah upaya JPU untuk memaksakan Hakim pemeriksa perkara ini tidak menvonis lebih dari empat bulan,”ungkapnya.

Lanjutnya, Jika JPU dengan dasar mempertimbangkan hal yang meringankan, bukanlah hal yang tepat JPU memilih empat bulan untuk memenuhi keadilan keluarga korban yang merasa sangat kehilangan seorang anak gadis yang kesehariannya mampu menciptakan keseruan dalam keluarga kecilnya dan seorang anak yang baru lulus sekolah menengah atas (SMA) dan hendak melanjutkan beasiswanya di salah satu perguruan tingga negeri di kendari.

“Pada tanggal 22 Agustus 2019 sekitar jam 14.30 Wita, kami bersama kakak korban meminta salinan putusan atau softcopy petikan putusan tetapi dengan alasan dalil bahwa keluarga korban tidak memiliki hak untuk menerima salinan tersebut sehingga kakak korban pun tidak berhasil mengantongi salinan tersebut,”tandasnya.

Kuasa hukum keluarga korban mengatakan akan mendorong JPU untuk banding serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan aksi damai yang akan digelarnya.

“Kami selaku kuasa hukum akan mendorong jaksa penuntut umum untuk banding, dan tak lupa juga dalam kesempatan ini kami meminta dukungan serta mengajak lapisan masyarakat, baik dari OKP, akademisi, sosialis dan penggiat hukum yang masih terketuk hatinya untuk bergabung digerakan kami untuk melakukan aksi damai,”pungkasnya.

Laporan : Muh. Alwi

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA