Bupati Wakatobi, Arhawi dan Ketua rombongan Wantimpres Jan Darmadi
Wakatobi, HarapanSultra.COM | Sejak Selasa (11/03/2019), sebanyak 14 orang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang dipimpin Jan Darmadi menginjakan kaki di kotamadya Kendari dalam rangka kunjungan kerja.
Dua hari berada di ibu kota provinsi Sulawesi tenggara (Sultra). Dalam agendanya, salah satu daerah yang dikunjungi berikutnya adalah Kepulauan tukang besi. Kamis (14/03/2019), rombongan yang didampingi bupati Wakatobi Arhawi, bertolak dari bandara Haluoleo menuju bandara Matarahora.
Rombongan disambut Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Instansi Vertikal Kabupaten Wakatobi. Penari dari sanggar Wanianse dengan tari Hepago, berlenggak lenggok memanjakan mata rombongan yang baru saja turun dari pesawat ATR 72-500.
Tari Hepago Persembahan Sanggar Wanianse
Satu malam menginap di Patuno resort. Jumat (15/03/2019), rombongan mengadakan pertemuan dengan Bupati Wakatobi dan para pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Dalam tatap muka itu membahas tema ‘Tantangan Dalam Pengembangan Potensi Wilayah Kabupaten Wakatobi’.
Acara Tatap Muka Pemda dengan Wantimpres di Aula Sekretariat Daerah
Dalam Kesempatan itu, Bupati Wakatobi mempresentasekan Potensi Daerah Kepulauan Tukang besi ini. Dengan visi Menjadi Kabupaten Maritim Yang Sejahtera dan Berdaya Saing, tiga potensi disodorkan kepada Wantimpres. Tiga leading sektor itu adalah pariwisata, perikanan dan kelautan, serta perdagangan antar pulau.
Diapit oleh dua laut yang luas yakni laut Banda dan laut Flores, luas wilayah kabupaten Wakatobi adalah 559,54 Km2, dengan presentase luas daratan sebesar 3% dan luas perairan 97%. Dari data tahun 2017, pulau pulau paling tenggara provinsi Sultra ini dihuni oleh 107.977 jiwa.
Wakatobi adalah singkatan dari empat empat pulau besar Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Daerah Tenggara Sultra ini merupakan salah satu cagar biosfer dari 8 yang ada di Indonesia. Pada tahun 2012 United Nations Of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Wakatobi sebagai salah satu cagar biosfer bumi dari 621 cagar biosfer pada 117 Negara.
“Jika diibaratkan Wakatobi adalah Manusia maka Dia adalah perempuan cantik yang pantut disanjung karena pulau ini berada di pusat segitiga karang dunia dengan luas karang 118.000 hektar. Atol Kaledupa 48 kilometer yang merupakan Atol terpanjang di dunia,”terang Arhawi.
Sejak masa pemerintahan Jokowi Dodo, sepuluh Bali baru upaya diciptakan. Dinamakanlah sepuluh daerah itu sebagai sepuluh top destinasi pariwisata. Diantaranya danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang, Mandalika Nusa Tenggara Barat, pulau Morotai Maluku Utara, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung Banten, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru, Komodo Nusa Tenggara Timur, dan Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.
Sail Indonesia
Bukan tanpa alasan, penetapan ini dilihat dari potensi wisata bawah laut yang begitu menjanjikan. Ada 123 spot diving dan dihiasi oleh 750 spesies karang, dan 942 jenis ikan. bahkan jumlah itu mengalahkan jumlah spesies karang yang berada di laut Karibia dan laut merah. Pantaslah kemudian Wakatobi disebut Surga Nyata Bawah Laut.
Ditetapkannya Wakatobi sebagai salah satu daerah dari sepuluh top destinasi merupakan sinyal positif untuk pengembangan Pariwisata. Pasalnya, dengan adanya penetapan ini Kabupaten Wakatobi terus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat.
Wakatobi Wave
Prioritas itu dituangkan oleh pemerintah pusat melalui berbagai macam ivent dan penghargaan. Wakatobi dimasukan dalam seratus ivent pariwisata nasional yang didalamnya terdapat berbagai atraksi budaya. menjadikan bagian dari Top 30 Wisata Bahari Indonesia, Wisata Pantai berada diperingkat 5, Wisata Bentang Laut peringkat 3, dan Peringkat 2 Wisata bawah laut setelah Raja Empat.
Berbagai Prestasi Wakatobi
Bukan hanya itu, potensi perikanan Wakatobi oleh Arhawi sejak dirinya menjadi Bupati kini sudah dilirik. Keanekaragaman jenis ikan dan karang bukan tidak mungkin industri perikanan bakal berkembang pesat. Hal itulah yang kemudian memicu pemerintah kabupaten Wakatobi membangun Tempat Pelelangan Ikan atau TPI di dua pulau Wangi-wangi dan pulau Tomia.
Potensi Perikanan
Menjual berbagai potensi yang dimiliki membutuhkan aksesibilitas yang baik. Dua bandara dan satu pelabuhan nasional masih belum cukup. Arhawi berharap pemerintah pusat dapat segera mengucurkan anggaran untuk pembangunan Dermaga dan fasilitas pendukung lainnya.
rencana pembangunan Dermaga Ferri
“Kita hanya butuh 15 Triliun saja untuk membangun infrastruktur baik itu pariwisata maupun perikanan. Datangnya Wantimpres Insya Allah dapat membawa manfaat buat daerah karena tim ini yang langsung akan menjelaskan kepada presiden tentang potensi yang kita miliki,”ungkap Arhawi saat ditemui paska acara tatap muka selesai digelar.
Dalam kesempatan yang sama, Jan Darmadi saat ditemui awak media mengatakan, Semua potensi yang telah disodorkan akan kembali dipaparkan dihadapan presiden.
Untuk menjalankan bisnis pariwisata kata Dia, di wakatobi, ada tiga hal harus diperhatikan oleh pemerintah daerah yaitu Alam, Budaya serta tradisi
“apa yang kita lihat dari Wakatobi, alamnya itu bagus. itu salah satu daripada atraksi yang namanya pariwisata, siapapun bisa kita bisa menjualnya. Saya melihat bupati Wakatobi cukup berhasrat membangun Wakatobi,”tuturnya
Ia melanjutkan, Sumberdaya Manusia juga merupakan faktor yang sangat mendukung berkembang pariwisata.
“jika di Wakatobi dibangun perhotelan maka apakah Masyarakat sudah siap bekerja di dalamnya?, ini yang perlu dilikirkan,”tukasnya.
Dewan Pertimbangan Presiden era Jokowi tersebut menghimbau kepada bupati Wakatobi untuk melihat contoh bagaimana mengembangkan industri pariwisata dibali. Ia menjelaskan pentingnya infrstruktur bandara dalam mondobrak angka kunjungan Wisatawan.
Bukan hanya itu, perhatian Pemda menurutnya tidak boleh hanya semata mata memikirkan Pembangunan dari segi infrastruktur. Pasalnya jika Bercermin dari dari Bali, Daerah yang telah dikenal hingga mancanegara tersebut Alamnya masih tetap menjadi prioritas untuk dilestarikan.
“Alam jangan kita rubah, jika alam sudah menginves ke daerah kita maka tugas kita untuk menjaganya,”harapnya.
Agar diketahui, Kunjungan kerja Dewan Pertimbangan President (Wantimpres) bukan kali pertama. Pada tahun 2017 lalu, Prof. Dr Sri Adiningsih bertandang ke Wakatobi meninjau desa desa persiapan wisata. (ADV)