oleh

Jelang Usia Bombana Ke 17 Tahun. “Kubangan” Masih Hiasi Ruas Jalan Kabaena

-OPINI-1298 views

Penulis : Hir Abrianto.
Kader Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari.

Pulau Kabaena dahulu adalah daerah bagian dari Kabupaten yang dikenal dengan situs kerajaan Agamanya (Wolio) yakni Daerah Tingkat II Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemudian berdasarkan Ketentuan Otonomi Daerah, Kabaena resmi menjadi bagian dari Kabupaten Bombana setelah Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003 ditetapkan.

Sejak tahun 2003 itulah Kultur dan pola hidup masyarakat Pulau yang dikenal dengan pengahasil pangan Seperti Beras dan Jagung itu mulai terjadi pergeseran mengikuti arah kebiasaan masyarakat di ibukota barunya yakni Kasipute dan sekitarnya.

Pembaharuan demi pembaharuan terus berubah berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Baik dari tektur makanan, pakaian, bangunan rumah hingga bahasa ibu pun mulai terkikiskan.

Disaat daerah seberang laut seperti Poleang, Taubonto, dan seikitar kota digegerkan dengan penemuan emas diperut bumi yang bisa dirauh dengan tangan kosong, maka pegunungan tanah batu Kabaena pun mulai di teropong dari jauh oleh pemerintah dan para Investor baik asing maupun lokalan.

Pemerintah daerah hingga pusat (Republik Indonesia) membukakan pintu lebar-lebar bagi mereka yang bertas kulit buatan eropa. Sampai pada akhirnya bahkan ada yang lupa diri hingga salah satu dari mereka dipaksa harus tidur rawat diri dan mental kemanusiaannya di balim jeruji (Kasus IUP Kabaena ditangan Komisi Pemberantasan Korupsi Red).

Masyarakat Kabaena terus berkembang hingga melewati peradaban Batu Akik pun dilewati. Sedangkan Alam pun berbicara sendirinya bahwa “sudah pulahan tahun saya tidur tenang dalam keindahanku” itulah Pantai berpasir putih (Pulau Sagori), Pulau Kondo, Negeri diatas awan (Tangkeno), Batuburi (Lengora), dan keindahan yang terpandang dari kejauhan Gunung Batu Sangia Sang Menara batu yang mengakar menokohkan Pulau Penghasil Padi itu (Arti Nama Kabaena red).
Beberapa kali Kabaena juga dinobatkan sebagai tempat perayaan hari penting Pemerintah daerah dan Destinasi-destinasi ditampilkan disana. Segala proyek-proyek dengan ANGGARAN RATUSAN-MILIARAN Mata uang mengalir disana seperti Perpipaan, Gedung Sekolah, Masjid tempat peribadatan, Perumahan, bahkan proyek anggaran non tunai pun berputar mewarnai roda ekonomi rumah tangga.

Namun, diusianya yang sudah mencapai usia dewasa bagi manusia (16 Tahun), Media penghubung antara satu kecamatan hingga kekecamatan lainnya masih sangat memprihatinkan padahal miliaran PAD dari Kabaena menebalkan laporan dan rekening daerah dan bahkan mungkin rekening pribadi.

“Kalau yang hamil muda ini bisa keguguran, dan kalau yang hamil tua bisa-bisa tekoana/melahirkan kalau lewati ini jalan Kabaena”.

Kutipakan kata dan keluah kesah pengguna jalan disana baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. Padahal di Kantor Pemerintahan tingkat Kabupaten banyak juga kepala dinas dan kepala OPD yang bisa berbahasa Asli Kabaena.

Kubangan mewarnai setiap Ruas jalan, tak terlewatkan meteran yang tidak di warnai Lobang. Hingga bisa dikenal dengan

“Jalan Kabaena berstatus Jalan Sejuta Lubang”.

Meski sudah masuk di media eletronik dan media massa lainnya tentang kondisi yang amat memprihatinkan itu, namun Pemerintah pun masih tetap senyum dan berkata “Pemda Sementara Berupaya, Mohon Dukungannya” padahal dukungan sudah diberikan bahkan sampai terpilih kembali jadi Bupati 2 Priode pun didukung.

Pinjaman 195 M, Pasar dibangun dangan Anggaran 40 M dan jalan yang dibutuhkan masyarakat dianggarkan dibawah nilai itu, aneh DPR juga Mengizinkan secara kelembagaan.

Sementara Titik Wilayah Izin Usaha Pertambangan juga terus bertambanh dititik-titik tertentu mengancam ekosistem makhluk hidup dari perairan hingga daratan. Hanya Debu dan Genangan Air lumpur tanah liat yang menggenangi pemukiman warga.

Para Aktivis Pemerhati Lingkungan didaerah itu Pun Mulai merubah ukuran Pinggang Celana Jins dan Ukuran Bajunya yang biasa iya gunakan seolah-olah lupa Bahwa Masih ada 1000 Generasi yang masih merangkah ingin berdiri hidup di seratus tahun yang akan datang.

#Ayo selamatkan Daerah Kita.
#Save Kabaena.
#DPR dan Pemerintah Daerah Jangan Benci Dikritik.
#Salam Demokrasi

Salam Perjuangan

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA