oleh

Prabowo Resmi Jabat Menhan, Pengamat dan Akademisi Sultra Beda Pandangan

Kendari, HarapanSultra.COM |Ungkapan yang mengatakan bahwa dalam dunia politik tidak ada kawan yang abadi dan tidak ada lawan yang kekal, yang ada hanyalah kepentingan itu ada benarnya. Hal ini dapat dilihat dengan Fenomena minggu ini dengan masuknya Mantan Calon Presiden RI periode 2019-2024, Prabowo Subianto dalam komposisi Kabinet Indonesia Maju untuk periode 2019-2024.

Mantan Komandan Kopassus pada era Pemerintahan Presiden Soeharto itu ditetapkan sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia menggantikan posisi Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang menjabat sebagai mentri pertahanan Republik Indonesia sejak tanggal 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019.

Dengan dilantiknya Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan bersamaan dengan puluhan Menteri lainya, sontak menimbulkan berbagai reaksi serta perbedaan pandangan dari berbagai kalangan. reaksi itu berasal dari kalangan politisi, pengamat politik, kalangan akademisi, bahkan juga masyarakat termasuk kalangan pendukung masing masing kedua kompetitor Calon presiden baik Pendukung Capres Joko widodo maupun pendukung capres Prabowo Subianto.

Dalam diskusi terbatas yang berlangsung di Ruang Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari pada hari Rabu, 23 Oktober 2019 dengan Topik Prabowo Subianto jadi Menteri Pertahanan, beberapa Pandangan dari kalangan Akademisi dan pemerhati politik terkait masuknya Parbowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan pada Komposisi Kabinet Indonesia maju.

Dosen Tindak Pidana Korporasi pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari, Faisal Abdaud, SH, MH, misalnya, menilai bahwa Cara Presiden Joko Widodo dengan mengangkat mantan rivalnya Prabowo Subianto merupakan langkah yang tepat.

Karena dalam perhelatan pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, Prabowo telah menawarkan konsep bagaimana Strategi mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman dan gangguan keamanan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Disamping itu, Prabowo juga menyoroti tingginya kebocoran pendapatan negara pada sisi perikanan dan kelautan.

” Dengan bergabungnya Partai Gerindra dalam kabinet Joko widodo merupakan Sikap bijak dari seorang Joko widodo untuk memberi peran dan tugas terhadap dua Menteri utusan Partai Gerakan Indonesia Raya dalam rangka membantu Pemerintah menangani masalah bangsa sesuai dengan apa yang telah ditawarkan oleh Prabowo kepada rakyat indonesia pada saat penyampaian Visi dan misinya sebagai Calon presiden yang lalu,” Tutur Dosen yang juga mengajar pada mata kuliah Hukum Laut ini.

Selanjutnya Pria yang berasal dari Kabupaten Bombana ini menilai bahwa Sikap Prabowo yang mau menerima posisi sebagai menteri Pertahanan harus dilihat secara positif dalam perspefektif membangun bangsa Indonesia meskipun itu harus diakui jika akan ada berbagai tanggapan yang tidak sependapat denganya.

” Dalam posisi Prabowo sebagai Menteri Pertahanan sebagai mantan rival Presiden Joko Widodo jangan dinilai sebagai sikap yang tidak wajar dan dianggap sebagai sikap yang tidak terhormat. Justru sikap kebesaran hati Prabowo yang bersedia menjabat sebagai Menteri yang secara otomatis akan dikendalikan oleh Presiden yang juga mantan rivalnya. lagi pula kejadian ini bukanlah kejadian yang pertama di dalam percatuan politik contohnya seperti Abraham Lincon yang juga pernah bersaing dengan william seward dalam pemilihan Presiden Amerika serikat, namun kemudian William Seward menjadi orang yang paling dipercaya oleh Presiden Amerika serikat ketika itu,” Imbuhnya

Hal berbeda di utarakan Huzaiman Anton, SH, MH, Dosen Mata kuliah Praktek Peradilan Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari ini menuturkan bahwa Posisi Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan pada Pemerintahan Prsiden Jokowidodo-Ma’ruf Amin dinilai kurang pantas dan akan melukai hati rakyat indonesia khusunya yang berada pada barisan Pendukungnya.

Apalagi pada saat pemilihan Presiden yang digelar pada beberapa bulan lalu, Prabowo merupakan salah satu rival dari Presiden Petahana Joko Widodo dimana pada saat kampanye Prabowo sangat antusias dalam menyampaikan visi misinya untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. karena dengan visi besarnya untuk meyakinkan masyarakat Indonesia dengan cara pandangnya sendiri sehingga Prabowo mendapatkan simpatik dan dukungan yang sangat siknifikan meskipun pada akhirnya di dikalahkan oleh Jokowidodo.

” Kekecewaan yang akan muncul dari Pendukung Prabowo itu merupakan kepekaan seluruh rakyat Indonesia terhadap Prabowo. jadi saya menilai bahwa posisi Prabowo Subianto sebagai Menteri pada pemerintahan Joko Widodo-KH.Ma’ruf Amin tidak dapat disandingkan dengan posisi Abraham Lincon dengan Willeam Seward di Amerika Serikat karena kedua Negara ini memiliki nuansa, perpetakan politik dan kesadaran politik yang berbeda,” Sebut Huzaiman

Indonesia menurutnya terdiri dari beribu ribu pulau, beberapa etnis yang berbeda berbeda sehingga dengan kondisi ini menyebabkan Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang politik dalam menilai sosok pemimpin susah untuk menerima kenyataan ini.

Terkait dengan pandangan Faisal Abdaud, SH, MH yang menegaskan jika keberadaan Prabowo dalam kabinet tidak melanggar etika dan semata mata untuk kepentingan bangsa dan negara, Alumni Fakultas Hukum Universitas Unisula itu menepisnya dengan alasan bahwa jika ia tidak mempersoalkan soal kepentingan bangsa dan negara namun ia tetap bersikukuh jika kehadiran Prabowo dalam kabinet dilihat dari soal pantas dan tidak pantas meskipun tidak ada aturan secara normatif yang mengatur soal pantas dan tidak pantas.

” apakah membangun Bangsa ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menjabat menjadi menteri ? saya kira tidak seperti itu, apapun posisi kita, kita harus berupaya membangun bangsa dengan cara berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki masing masing,” Tepisnya.

Ditempat yang sama Dirawati, SH, MH, menilai bahwa hadirnya Prabowo dalam komposisi Kabinet Joko widodo-Ma’ruf Amin, dari sisi politik dianggap adalah tindakan yang kurang terhormat namun dari sisi agama, sikap Prabowo yang mau menerima posisi ini merupakan sikap kesatria sebagai sesama anak bangsa dimana dengan posisinya sebagai menteri Pertahanan akan ikut berkontribusi dalam pembangunan Pertahanan dan Keamanan Negara meskipun ia harus mengabaikan tanggapan negatif dari para pendukungnya.

” Sikap yang dipertontonkan seorang Prabowo Subianto merupakan sikap rendah hati yang merupakan ajaran agama kita dan yang patut diteladani oleh seluruh anak negeri dalam membangun kebersamaan untuk menjadikan Negeri ini menjadi lebih baik,” Ungkapnya.

Sementara itu, salah satu Lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah kendari, Rezky Budu,SH yang dimintai komentar terkait hal ini, mengatakan bahwa dengan bergabungnya Prabowo sebagai salah satu Menteri pada Kabinet Indonesia Maju adalah salah satu bukti adanya kepanikan politik dari pihak Partai Gerindra.

Dimana, Partai politik yang dinahkodai Prabowo Subianto ini sangat khawatir tidak mendapat ruang kekuasaan. Kondisi ini akan memicu terjadinya abuse of power apalagi ketua DPR-RI dijabat oleh Puan Maharani yang merupakan partai Penguasa. sangat mungkin terjadi.

” Upaya membangun Demokrasi yang ideal diperlukan adanya penyeimbang dalam pelaksanaan pemerintahan yaitu Oposisi yang mampu memberikan kontrol meskipun jika masih ada Kekuatan Legislatif yang diberi amanat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan. Namun karena kekuatan penyeimbang seperti Legislatif masih di dominasi oleh Partai Penguasa, maka potensi penggunaan kekuasaan dalam penyelenggaraan negara sangat mungkin terjadi,” ungkapnya. (Abady Makmur)

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA