Bombana, HarapanSultra.COM | — Di balik kerut wajah dan langkah yang mungkin tak lagi secepat dulu, tersimpan semangat yang tak pernah pudar. Hal itu terlihat jelas pada Rabu pagi (18/6/2025), saat 20 warga lanjut usia berkumpul di Kantor Lurah Poea, Kecamatan Rumbia. Bukan untuk mengurus administrasi atau sekadar bertemu teman lama—melainkan untuk belajar. Ya, belajar di “Sekolah Lansia”, program yang digagas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Bombana.
Tak seperti kelas pada umumnya, suasana kali ini lebih hangat dan penuh tawa. Para peserta tampak antusias menyimak, mencatat, dan bahkan mewarnai. Ya, mewarnai—kegiatan yang mungkin identik dengan anak-anak, tapi hari itu menjadi sarana pelatihan motorik halus dan pelepas stres yang sangat disukai para lansia.
Yunita, ST., M.Kes, dari tim DPPKB, membuka sesi dengan materi bertajuk “Perawatan Jangka Panjang”. Ia membawakan dengan gaya yang santai dan mudah dipahami, menjelaskan pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap kesehatan fisik dan mental di usia senja. Setelah itu, para peserta diajak langsung mewarnai gambar-gambar sederhana. Warna merah, kuning, biru, hijau—semuanya berpadu dalam lembar kerja yang kini menjadi ekspresi diri penuh makna.
“Kalau kita mewarnai, pikiran jadi senang. Lupa pegal, lupa usia,” celetuk seorang peserta sambil tertawa, diiringi anggukan teman-temannya.
Tidak berhenti di situ, sesi kedua dibawakan oleh Asnidawati, SKM., dengan materi “7 Dimensi Lansia Tangguh”. Ia memaparkan bahwa menjadi lansia bukan berarti berhenti memberi kontribusi. Justru di masa inilah kebijaksanaan hidup bisa menjadi bekal bagi keluarga dan lingkungan.
“Kita tidak hanya butuh tubuh yang sehat, tapi juga hati yang bahagia, pikiran yang positif, dan lingkungan yang mendukung,” jelas Asnidawati. Ia mengajak peserta untuk menjaga semangat, tetap aktif dalam kegiatan sosial, dan tidak menarik diri dari lingkup keluarga maupun masyarakat.
Sesi demi sesi mengalir begitu alami. Para peserta tidak hanya mendengar, tapi juga berdialog, bertanya, bahkan saling menyemangati. Sekolah Lansia ini bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang pulih—tempat para lansia merasa dihargai, didengarkan, dan terlibat.
DPPKB Bombana menjadikan Sekolah Lansia sebagai bagian penting dari pendekatan humanis dalam pembangunan keluarga. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesehatan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan mengembalikan rasa percaya diri para lansia.
“Lansia bukan beban pembangunan. Mereka adalah bagian dari kekuatan masyarakat. Sekolah ini adalah bentuk penghormatan kami atas peran mereka selama ini,” ujar tim penyelenggara dari DPPKB.
Program ini akan terus digelar di berbagai kecamatan di Kabupaten Bombana. Setiap pertemuan dirancang agar lebih interaktif, inspiratif, dan menyentuh kebutuhan riil para lansia—dari kesehatan fisik, mental, hingga sosial.
Hari itu, bukan hanya gambar yang mereka warnai. Tapi juga hari-hari yang selama ini terasa sepi, kini kembali diisi dengan tawa, cerita, dan semangat baru. Di Sekolah Lansia Rumbia, Bombana menunjukkan bahwa usia boleh bertambah, tapi semangat untuk tumbuh dan memberi tidak pernah usang