Kendari, Harapansultra.com | – Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Bombana (HIPPMAR) Kendari menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan keresahan publik terkait dua isu krusial, yakni kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax serta dugaan tindakan represif aparat kepolisian dalam pengamanan aksi di Kabupaten Bombana. Ketua Umum HIPPMAR Kendari, Henrik Pranata, memimpin langsung jalannya aksi tersebut pada Jumat, 11 Juni 2026.

Henrik Pranata menegaskan bahwa kehadiran mereka di lapangan bukan sekadar untuk menyampaikan keluhan, melainkan bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil. Menurutnya, keputusan menaikkan harga Pertamax merupakan beban tambahan yang sangat berat bagi masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih belum stabil sepenuhnya.

Kami hadir bukan sekadar untuk menyampaikan keluhan, melainkan untuk menyuarakan keresahan masyarakat yang semakin hari semakin dibebani oleh berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, ujar Henrik dalam orasinya.

Henrik menjelaskan, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada pemilik kendaraan pribadi. Ada efek domino yang nyata, mulai dari lonjakan biaya transportasi, terganggunya distribusi barang, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar. Dampak ini, menurutnya, secara langsung akan menekan daya beli masyarakat luas yang hingga saat ini belum menunjukkan peningkatan pendapatan yang sebanding dengan laju inflasi.

Kebijakan yang seharusnya mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi rakyat justru menimbulkan keresahan dan ketidakpastian. Pemerintah harus lebih serius mencari solusi yang mampu menjaga stabilitas harga energi tanpa harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat, tambahnya.

Selain isu ekonomi, HIPPMAR Kendari menyoroti dugaan tindakan arogan yang dilakukan aparat keamanan saat mengamankan aksi demonstrasi di Kabupaten Bombana beberapa waktu lalu. Henrik menilai, demonstrasi adalah hak konstitusional yang dijamin oleh undang-undang, sehingga setiap warga negara bebas menyampaikan kritik tanpa harus dibayangi intimidasi.

Aparat keamanan seharusnya menjalankan fungsi pengayoman dan perlindungan dengan mengedepankan pendekatan humanis. Ketika muncul tindakan arogan, hal itu tidak hanya mencederai nilai-nilai demokrasi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum, tegasnya.

Atas dasar itulah, HIPPMAR Kendari mendesak pihak berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur penanganan demonstrasi di wilayah Bombana. Setiap tindakan aparat di lapangan harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai koridor hukum yang berlaku. Pihaknya dengan tegas menuntut pemberian sanksi jika ditemukan pelanggaran disiplin atau tindakan yang tidak profesional oleh oknum kepolisian.

Lebih jauh, Henrik melayangkan tuntutan keras terkait posisi pucuk pimpinan kepolisian di wilayah tersebut. Kami mendesak pencopotan Kapolres Bombana apabila hasil evaluasi dan pemeriksaan membuktikan adanya tindakan arogansi yang bertentangan dengan tugas dan fungsi kepolisian sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, pungkas Henrik.

Aksi yang berlangsung damai ini ditutup dengan penyampaian tuntutan resmi dari HIPPMAR Kendari yang meminta pemerintah segera menstabilkan harga energi, menjamin perlindungan bagi warga yang menyampaikan aspirasi, serta memastikan penegakan hukum yang berkeadilan di Bombana.

Tuntutan Aksi HIPPMAR Kendari:

  1. Menolak tegas kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang dinilai memberatkan ekonomi masyarakat.

  2. Mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan daya beli rakyat.

  3. Mengutuk segala bentuk tindakan arogan dan intimidasi terhadap massa aksi di wilayah Bombana.

  4. Mendesak dilakukannya evaluasi serta pemeriksaan secara transparan terhadap prosedur penanganan demonstrasi.

  5. Mendesak pencopotan Kapolres Bombana apabila terbukti melakukan tindakan tidak profesional yang mencederai demokrasi.

  6. Menjamin penuh kebebasan berpendapat serta memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negara yang menyampaikan aspirasi.

Sebagai penutup, seluruh peserta aksi meneriakkan yel-yel perjuangan sebagai simbol solidaritas: Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Tolak Kenaikan BBM! Lawan Arogansi Kekuasaan! Kawal Demokrasi Sampai Menang!