oleh

Bulog Hentikan Sementara Pembelian Beras, Harga Gabah di Bombana Anjlok, Petani Meradang

Bombana, HarapanSultra.COM  | Sejumlah Petani di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara meradang, pasalnya memasuki musim panen kali ini harga penjualan gabah kering justru anjlok hingga mencapai harga 310 ribu rupiah per kuintalnya.

Berdasarkan hasil penelusuran awak media harapansultra.com, kondisi anjloknya harga gabah disebabkan sejumlah pabrik yang selama ini mengambil gabah dari petani membatasi jumlah pembelian dan menurunkan harga belinya dengan alasan saat ini Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) telah menghentikan sementara pembelian beras dari pabrik hingga waktu yang belum ditentukan.

Ahmad (50) salah satu Petani di Kelurahan Lameroro, Kecamatan Rumbia mengaku turunnya harga hingga mencapai level terendah dari beberapa tahun belakangan ini dapat membuat petani merugi karena hasil penjualan tidak mampu menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan mulai dari penyiapan lahan, pemupukan dan pembasmian hama yang biayanya semakin meningkat.

“Selama ini harganya dikisaran 350 ribu hingga 400 ribu, dengan harga itu petani sudah bisa bernapas, kalau harga cuman 310 ribu bisa bisa kita merugi karena ongkos kerja, pupuk dan racun makin naik,” ujar Ahmad (Jum’at, 21/5/2021).

Ia mengaku terpaksa menjual gabahnya meskipun kondisi harga sedang turun, hal itu dilakukan untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan selama ini sekaligus agar ada modal untuk persiapan kerja berikutnya.

“Kita berharap pemerintah dapat menemukan solusi terbaik sehingga harga gabah bisa menjadi stabil kembali,” singkat Ahmad.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Cabang Perum Bulog Bombana, Mutahim membenarkan bahwa Perum Bulog memang telah menghentikan sementara pembelian beras dari petani, hal itu dilakukan karena pada tingkatan hilir belum ada kejelasan dari pemerintah beras bulog bakal disalurkan kemana seperti yang lalu disalurkan salah satunya melalui program beras raskin yang saat ini program tersebut sudah di tiadakan.

“Jika kita beli semua beras Petani terus disimpan di gudang Bulog dan tidak keluar-keluar kira kira bagaimana pasti akan ada kerusakan atau kurang mutu,” ujar Mutahim.

Sebagai upaya agar pembelian beras dapat dilakukan kembali, perum Bulog Bombana telah melakukan upaya lobi ke Pemerintah Kabupaten agar program program sosial yang saat ini berada di Dinas Sosial dapat menggunakan beras dari perum Bulog.

“Penghentian pembelian beras ini sifatnya Nasional bukan di Bombana saja sehingga kita berharap agar Program sembako yang ada di Dinas Sosial dapat menggunakan beras dari Bulog sehingga ada perputaran dan beras petani dapat dibeli kembali,” tegas Mutahim.

Ia menambahkan bahwa masyarakat dan seluruh stakeholder saat ini tidak perlu lagi ragu dengan kualitas beras dari Perum Bulog seperti yang lalu yang di identikan sebagai beras kualitas rendah, karena saat ini beras yang diterima di Bulog merupakan beras kualitas medium yang telah dilakukan pemeriksaan kualitas secara ketat sebelum masuk ke gudang.

“Sekarang beras yang akan masuk ke Bulog tidak asal masuk jika kualitasnya dibawah standar yang telah ditetapkan maka beras tersebut akan ditolak,” tutupnya. (IS)

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA