oleh

Nur Fajar, Bocah Penderita HB Rendah di Muna Butuh Uluran Tangan Dermawan dan Pemkab

MUNA, Harapan Sultra .COM | Nur Fajar (5), bocah asal Lombe, Kecamatan GU, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) saat ini dirawat di RSUD Muna karena didiagnosa mengidap penyakit yang cukup berbahaya, bocah yang sejak usia 1 tahun ditinggal kedua orang tuanya merantau di Ambon itu mengalami kekurangan Hemoglobinya (HB) Darah yang hanya diangka 2,5 sedangkan normal untuk anak berada diangka 10-16 gr/d tentu angka ini sangat jauh dari normal.

HB adalah zat yang mewarnai darah menjadi merah maka kekurangan yang ekstrim akan menyebabkan pucat pada tubuh dan beberapa gejala akan dirasakan penderitanya.

Saat disambangi awak Media Harapan Sultra.COM di Ruang perawatan RSUD Muna (09/12/2018) Nampak jelas seluruh tubuh anak itu pucat. Kedua kaki dan pipi bengkak-bengkak.

Oleh perawat yang menangani disampaikan bahwa saat ini Nur Fajar membutuhkan darah sebanyak lima kantong namun yang  tersedia baru satu kantong saja dan membutuhkan donor jenis golongan darah AB

Di Rumah Sakit, Fajar hanya ditemani Wa Labi sang nenek yang sabar merawat Nur Fajar sejak berusia 1 Tahun dan tiga orang tetangganya.

Wa Labi kepada awak media ini menceritakan, Cucunya itu dititipkan oleh Anwar sejak berusia 1 tahun karena istrinya, Wa Anu mengalami gangguan jiwa di Ambon.

Usai menitipkan Fajar, ayahnya kembali ke Ambon. Kini, ayahnya telah menikah lagi. Sejak dititipkan itulah, Fajar tak mengenali kedua orang tuanya.

“Kalau di kampung (Lombe), Fajar memanggil tetangga bernama Arlan, dengan sebutan bapak. Saat ini, kebetulan dia (Arlan) yang temani Fajar. Karena, setiap bangun tidur harus digendong oleh Arlan,” ceritanya.

Dimata Fajar, Arlan dianggap sebagai ayahnya. Hal itu disebabkan, setiap hari keduanya berinteraksi. Di kampung, Fajar terbilang anak yang aktif bermain seperti anak-anak pada umumnya.

Lanjut Wa Labi, Awal mula cucunya sakit dan didiagnosa sebagai ambien (wasir). Setelah diobati sembuh. Kemudian pantatnya luka, tidak bisa makan dan saat buang air besar bukanya kotoran yang keluar, melainkan lendir bercampur darah.

Sang Nenek lalu membawanya ke Puskesmas GU. Karena, keterbatasan peralatan medis, pihak Puskesmas mengeluarkan surat rujukan ke RS. Saat itu Wa Labi pun kebingungan. Mau dirujuk ke Bau-Bau, namun tak punya biaya dan sanak saudara disana.

Beruntung, ada rekan ayah Fajar di Muna yang meminta agar dibawa ke RSU Raha.

“Kami tiba disini (RSU) naik angkutan umum. Untung saja, sopirnya tidak meminta ongkos,” katanya.

Kepada awak media ini Wa Labi sangat berharap ada dermawan atau Pemerintah sudi mengulurkan tangan membantu cucunya agar bisa sembuh dari penyakitnya, terutama yang sangat mendesak yaitu kebutuhan Darah berjenis AB.

Karena keterbatasan ekonomi, Fajar saat ini tercatat sebagai pasien BPJS. (Lipsus : Borju)

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA