
Bombana, harapansultra.com | Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan kualitas produksi jagung di wilayah Bombana, Polres Bombana menggelar pelatihan intensif yang melibatkan aparat kepolisian dan praktisi pertanian. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Kanit Binmas dan Bhabinkamtibmas dalam mendampingi upaya ketahanan pangan melalui penerapan teknik budidaya jagung yang modern dan efektif. Acara diselenggarakan di Cafe Grend Lampusui Kasipute dan ditutup dengan penjelasan menyeluruh mengenai langkah-langkah budidaya, mulai dari persiapan lahan hingga proses panen. Kamis, 20 Februari 2025.
Acara dibuka secara resmi oleh Kapolres Bombana, AKBP Wisnu Hadi, S. I. K, M. I. K, yang menyampaikan harapannya agar sinergi antara aparat kepolisian dan petani dapat menciptakan inovasi baru dalam bidang pertanian. Tak hanya itu, pelatihan ini juga dihadiri oleh Wakapolres, para Kabag, Kasat, dan Kanit Disketapang Bombana, serta seluruh Bhabinkamtibmas dari wilayah Polsek Bombana, yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.
Dalam sesi materi, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bapak Hasbi, SP. M. M, memaparkan serangkaian teknik budidaya jagung yang terintegrasi. Beliau menjelaskan pentingnya pemilihan bahan tanam berkualitas, diikuti dengan persiapan lahan menggunakan dua metode utama: Olah Tanah Sempurna (OTS) untuk lahan dengan kadar liat tinggi dan Tanpa Olah Tanah (TOT) untuk lahan yang gembur. Selanjutnya, proses penanaman dilakukan dengan pemberian pupuk kandang atau kompos sebelum tanam, dilanjutkan dengan aplikasi pupuk yang dilakukan secara bertahap pada hari-hari tertentu (7, 28-30, dan 45-50 HST) guna mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.
Materi juga menguraikan teknik penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, serta penggunaan herbisida kontak yang tepat agar tanaman jagung tidak terganggu oleh organisme pengganggu. Pengendalian hama seperti lalat bibit dan penggerek batang dilakukan melalui aplikasi insektisida, sedangkan penyakit seperti bulai dan jamur diatasi dengan perlakuan fungisida yang sesuai. Indikator kematangan tanaman, seperti kekuningan daun dan tanda hitam pada pangkal tongkol, juga dijelaskan sebagai acuan waktu panen yang optimal. Diskusi interaktif pun berlangsung, di mana peserta berbagi kendala lapangan dan mengemukakan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan cuaca dan kondisi tanah yang beragam.
Para peserta mendapat kesempatan untuk mendalami praktik terbaik melalui sesi tanya jawab yang intens. Mereka juga diberikan materi tambahan mengenai teknik pembumbunan dan penanganan masalah panen saat curah hujan tinggi, yang berpotensi menurunkan kualitas hasil. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi model sinergi antara aparat penegak hukum dan masyarakat petani dalam mengembangkan sektor pertanian secara berkelanjutan.

Sebelum memasuki sesi tanya jawab, Bapak Hasbi menekankan pentingnya penerapan teknik budidaya yang terukur dan pemilihan varietas unggul sebagai kunci keberhasilan produksi jagung. Beliau menambahkan bahwa inovasi serta kolaborasi antar instansi harus ditingkatkan guna mengantisipasi dampak perubahan iklim yang kian nyata di lapangan.
“Saya yakin dengan penerapan metode OTS dan TOT yang tepat serta pengawasan ketat terhadap penggunaan pupuk dan pestisida, kita dapat memaksimalkan produksi jagung dan menjaga kualitas hasil panen, demi keberlanjutan ketahanan pangan di wilayah Bombana,” ujar Bapak Hasbi, SP. M. M.
Acara pelatihan diakhiri dengan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh. Harapan besar ditujukan agar sinergi antara aparat kepolisian dan petani dapat menciptakan inovasi yang aplikatif di lapangan, sehingga ketahanan pangan di Bombana semakin kokoh. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, pelatihan ini menjadi momentum strategis dalam mengoptimalkan sumber daya lokal demi kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan sektor pertanian yang berkelanjutan.









