jawa Tengah harapansultra.com – Pemerintah terus memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran agar setiap peserta didik memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing. Kebijakan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan pendidikan yang merata, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia. Hal itu ditegaskan dalam rangkaian kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq di sejumlah sekolah luar biasa di Jawa Tengah, Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Fajar meninjau pelaksanaan revitalisasi di SLB M Surya Bangsa, Kabupaten Kendal, yang menerima bantuan pembangunan dua ruang kelas baru, satu perpustakaan, dan satu ruang keterampilan. Pembangunan itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas sarana belajar bagi 111 peserta didik agar memperoleh lingkungan pendidikan yang lebih nyaman, aman, dan mendukung proses belajar.

Pemerintah juga membangun Unit Sekolah Baru (USB) di SLB Muhammadiyah Weleri sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kehadiran sekolah baru diharapkan mampu menjangkau lebih banyak peserta didik sekaligus memperkuat pemerataan layanan pendidikan inklusif di Jawa Tengah.

Selain meningkatkan kualitas infrastruktur sekolah, pemerintah terus mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) ke berbagai satuan pendidikan, termasuk sekolah luar biasa. Pemanfaatan perangkat tersebut diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik penyandang disabilitas.

Saat membuka Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran bagi guru SLB di Jawa Tengah, Fajar mengatakan pemerintah akan kembali menambah distribusi perangkat pembelajaran digital pada tahun ini.

“Tahun ini akan ada tambahan unit IFP yang akan dikirimkan ke masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan jumlah siswa atau rombongan belajarnya. Distribusi IFP yang akan ditambahkan lagi di tahun ini mencapai lebih dari 700 ribu unit untuk seluruh satuan pendidikan,” kata Fajar.

Menurutnya, distribusi perangkat tersebut bukan sekadar program pengadaan teknologi, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperluas akses belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

“Itu bukan semata-mata proyek bagi-bagi IFP, tetapi sebenarnya punya makna yang lebih dalam untuk membantu akses anak-anak berkebutuhan khusus terhadap media belajar,” ujarnya.

Ia menegaskan, kehadiran Papan Interaktif Digital memungkinkan guru menghadirkan media pembelajaran yang lebih beragam sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan belajar setiap peserta didik.

“Kehadiran PID ini justru menjembatani mereka untuk bisa mengakses media-media ajar yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” ujarnya.

Fajar menilai keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan guru memahami karakter dan kebutuhan belajar setiap anak. Menurutnya, pendekatan pembelajaran harus berpusat pada peserta didik sehingga metode yang digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan mereka.

“Dalam pendidikan inklusif itu bukan anaknya yang diminta menyesuaikan kepada guru, tetapi bagaimana guru menyesuaikan dengan kemampuan anak dalam mencerna satu pembelajaran,” tegasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi pendidikan inklusif berbasis digital.

“Bimbingan teknis ini hadir sebagai langkah strategis dari Direktorat PKPLK untuk memastikan transformasi pendidikan dalam konteks digital agar semakin inklusif, adaptif, dan sekaligus berdampak nyata bagi para peserta didik penyandang disabilitas,” kata Tatang.

Selama empat hari pelaksanaan bimbingan teknis, para guru memperoleh pelatihan mengenai pemanfaatan Papan Interaktif Digital, pengembangan video pembelajaran, pembuatan permainan edukatif, hingga penggunaan platform Rumah Pendidikan sebagai ruang berbagi praktik baik. Melalui pelatihan tersebut, peserta didorong menghasilkan berbagai produk pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Tidak hanya itu, setiap peserta juga diharapkan menjadi penggerak di lingkungan kerjanya dengan membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada guru lain melalui komunitas belajar. Langkah ini diyakini dapat mempercepat pemerataan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran digital yang inklusif.

Menjelang mengakhiri kunjungannya, Fajar mengingatkan bahwa peserta bimbingan teknis memiliki tanggung jawab untuk menyebarluaskan ilmu yang telah diperoleh kepada rekan sejawat.

“Peserta yang hadir adalah perwakilan yang dipilih untuk mendapatkan kesempatan mengikuti Bimtek ini. Oleh karena itu Bapak Ibu punya tanggung jawab moral yang besar untuk menularkan atau mengimbaskan apa yang sudah didapatkan kepada kolega-kolega yang lain,” ujarnya.

Revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru menjadi tiga fondasi utama pemerintah dalam memperkuat pendidikan inklusif di Indonesia. Melalui penyediaan sarana belajar yang lebih layak, pemanfaatan teknologi yang adaptif, serta penguatan kapasitas tenaga pendidik, pemerintah berharap setiap anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan belajar yang setara, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah nyata dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang semakin inklusif, adaptif, dan berkeadilan bagi seluruh peserta didik.