
Bombana, HarapanSultra.COM – Dentuman gendang dan gong terdengar bersahut-sahutan siang dan malam di Desa Masaloka Selatan, Kecamatan Masaloka Raya, Kabupaten Bombana, Rabu (13/5/2026). Irama tabuhan tradisional itu bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritual adat Kaombo atau pingitan, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Buton yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan.
Di balik suara gendang yang menggema, sejumlah gadis remaja menjalani prosesi sakral selama tujuh hari di dalam kamar tertutup. Mereka tidak diperbolehkan keluar ruangan selama masa pingitan berlangsung. Seluruh kebutuhan mereka, mulai dari makan hingga minum, disediakan dan dilayani langsung oleh keluarga di dalam ruangan tersebut.
Bagi masyarakat Buton, khususnya warga Masaloka Raya, Kaombo bukan sekadar ritual adat biasa. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol pendidikan moral bagi perempuan muda agar menjaga kehormatan dan kesucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Wakil Ketua DPRD Bombana, Zalman, yang turut menghadiri kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat yang masih mempertahankan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.
Menurut Sekretaris Partai NasDem Bombana itu, Kaombo memiliki nilai budaya, sosial, dan spiritual yang sangat kuat bagi masyarakat Buton.

“Tradisi ini sangat bagus dan patut diapresiasi karena merupakan warisan adat turun-temurun yang harus terus dilestarikan. Kaombo memiliki kesakralan tersendiri dan menjadi pengingat khusus bagi anak-anak gadis agar menjaga kehormatan dirinya,” ujar Zalman.
Ia menilai, adat seperti ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang diwariskan orang tua kepada generasi muda.
Dalam prosesi Kaombo, para gadis ditempatkan di ruangan tertutup selama tujuh hari penuh. Setelah empat hari masa pingitan berjalan, ritual kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemukulan gendang atau mbololo selama tiga hari berturut-turut.
Pada fase inilah para tokoh adat menjalankan ritual khusus yang dipercaya masyarakat sebagai bentuk pengujian kesucian para gadis yang menjalani Kaombo. Kepercayaan turun-temurun itu diyakini menjadi pertaruhan harga diri pribadi sekaligus kehormatan keluarga besar.
Masyarakat setempat meyakini bahwa perempuan yang mengikuti ritual tersebut dengan penuh keyakinan berarti menjaga kesucian dirinya. Karena itu, Kaombo tidak hanya dipandang sebagai adat, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan keluarga.
Selama tiga hari prosesi mbololo berlangsung, suasana kampung berubah menjadi lebih hidup. Dentuman gendang dan gong dimainkan tanpa henti, baik siang maupun malam. Selain bagian dari ritual adat, tabuhan musik tradisional itu juga bertujuan menghibur para gadis yang menjalani pingitan agar tidak merasa jenuh selama berada di dalam kamar.
Keluarga besar dan masyarakat sekitar pun turut berkumpul menikmati suasana kebersamaan yang jarang ditemui di hari-hari biasa.
Setelah masa tujuh hari berakhir, para gadis kemudian dikeluarkan dari kamar pingitan untuk menjalani prosesi pemandian adat oleh tokoh adat yang telah dipercayakan. Setelah dimandikan, mereka dipakaikan busana adat Buton lengkap sebelum diantar menuju bangsal atau tenda yang telah disiapkan.
Di tempat itu, para gadis duduk berderet menerima doa dari keluarga dan para undangan yang hadir. Doa-doa dipanjatkan agar mereka kelak menjadi perempuan mandiri, mampu menjaga kehormatan diri hingga menikah, serta segera dipertemukan dengan jodoh yang baik.
Salah satu bagian penting dalam tradisi tersebut adalah kasambu, yakni pemberian uang secara terbuka dari keluarga maupun tamu undangan kepada para gadis yang menjalani Kaombo. Nilainya tidak ditentukan dan diberikan secara sukarela, mulai dari nominal kecil hingga jumlah besar, tanpa menggunakan amplop.
Tradisi kasambu menjadi simbol dukungan, doa, dan rasa syukur keluarga atas terlaksananya prosesi adat tersebut.
Menurut Zalman, kegiatan adat seperti Kaombo juga memiliki makna sosial yang besar karena mampu mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat, terutama bagi warga perantauan yang pulang kampung untuk mengikuti acara tersebut.
“Ini juga menjadi ajang silaturahmi keluarga. Banyak keluarga yang datang dari luar daerah bahkan dari perantauan untuk berkumpul bersama dalam kegiatan adat seperti ini,” katanya.
Tradisi Kaombo di Desa Masaloka Selatan diketahui digelar setiap dua tahun sekali. Selain mempertahankan adat istiadat leluhur, pelaksanaan dua tahunan itu juga menyesuaikan momentum berkumpulnya keluarga besar dari berbagai daerah.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Masaloka Selatan masih memegang teguh nilai-nilai adat yang diwariskan nenek moyang mereka. Kaombo bukan hanya ritual budaya, tetapi juga menjadi identitas masyarakat Buton yang sarat pesan moral, penghormatan terhadap perempuan, serta perekat hubungan sosial antarkeluarga dan masyarakat. (IS)








Tinggalkan Balasan