oleh

Investigasi Kerusakan Lingkungan oleh PT. Timah, KNPI Bombana : Ini Potensi di Meja Hijau kan

KABAENA, HARAPAN SULTRA .COM | Setelah mengadukan PT. Timah Eksplomin pada DPRD dan DLH Bombana, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bombana terjun langsung melakukan investigasi di lokasi pemukiman warga di Desa Baliara, Kecamatan Kabaena Barat yang terkena dampak lingkungan paling parah akibat aktifitas pertambangan tersebut, pada Sabtu (15/12/2018).

Setelah melakukan Investigasi dibeberapa titik dan rumah warga serta mendengarkan keluhan langsung dari warga yang menjadi korban pencemaran lingkungan oleh PT. Timah, Tim KNPI yang dipimpin Agustamin Saleko menilai secara kasat mata telah terjadi kerusakan dan pencemaran Lingkungan yang luar biasa parahnya, tidak hanya merusak ekosistem yang ada bahkan telah mengancam kelangsung hidup sehat masyarakat sekitar.

“Ini perusahan sudah sangat jelas menabrak aturan minerba, pemukiman warga menjadi merah karena tercemarnya lumpur yang mengalir dari lokasi penambangan,” ungkapnya.

Saking parahnya lanjut Sekretaris KNPI itu, pencemaran tersebut telah mencemari laut hingga sejauh 300 meter dari pantai, sehingga warga yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bertani Rumput Laut harus gulung tikar karena pencemaran itu menjadikan rumput laut tidak bisa berkembang bahkan mati dan ini telah berlangsung sekitar 5 tahun.

Untuk meredam kegelisahan warga tambah Agustamin, Pihak Perusahaan lalu menjanjikan untuk membangunkan masjid, padahal pembangunan rumah ibadah tersebut sejatinya memang merupakan kewajiban perusahaan dalam Bentuk CSR.

“Ini sudah jelas pembodohan, sudah lihat ada korban nyawa akibat ulah mereka, masa datang bawa CSR dengan dalih solusi,” Bebernya

Setelah turun langsung melakukan investigasi lapangan, pihaknya bakal melakukan kajian lebih mendalam agar persoalan tersebut ditindak lanjuti bahkan agar dipertanggung jawabkan secara hukum.

“Jadi setelah ini, kami akan bawa PT. TIMAH ini di meja Hijau,” Pungkasnya

Senada dengan Agustamin, Salah satu nelayan yang juga petani Agar Kepada jurnalis harapansultra.com, mengungkapkan bahwa sejak aktifitas pertambangan mencemari laut, dirinya dan beberapa warga lainnya telah kehilangan penghasilan karena berhenti bertani Rumput Laut.

“Kami sudah lama tinggalkan usaha tani agar (rumput laut.red) ini, sebab tanaman Agar kerap rusak karena air yang tercemar dan ini sudah memasuki tahun kelima kami berhenti,” Keluhnya dan minta identitasnya tidak di publikasi. (Hir Abrianto)

 

 

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA