oleh

Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Konsel Memprihatinkan.

Andoolo, HarapanSultra.COM | Angka kasus Kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra) Terbilang cukup memprihatinkan.

Rilis data Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak (SAKTIPEKSOS PA) Dinsos Kab. Konawe Selatan, dari tahun 2015 hingga April 2018 mencapai 49 anak yang jadi korban kekerasan seksual alias Incest.

Dengan rincian Korban kekerasan seksual terhadap anak di Konsel yang masuk dalam pendampingan SAKTIPEKSOS PA. Tahun 2015 (6 anak), 2016 (18 anak), 2017 (12 anak), dan parahnya dari Januari hingga April 2018  mencapai 13 anak.

Temu bincang-bincang Harapan Sultra.Com bersama anggota Saktipeksos PA Konsel, Helpin S.Sos.I di Kampus IAIN Kendari, Kamis (24/05). Dikatakannya, dalam angka tersebut,  pelaku kekerasan seksual terhadap anak di Konsel rata-rata adalah orang terdekat atau kerabat korban seperti teman dan tetangga. Bahkan lanjut Dia, yang lebih mendominasi pelakunya adalah Ayah tiri, Kakek, dan Ayah kandung korban.

“Jadi memang, anak yang jadi korban ini butuh pendampingan khusus dan intens supaya beban psikososialnya pelan pelan bisa pulih. Kan anak ini cenderung menyendiri karena malu. bisa bisa gila atau mungkin bunuh diri. Makanya butuh pendampingan khusus. “Ujarnya.

Beberapa Contoh kasus yang dihimpun dimana pelaku adalah orang terdekat korban. Terjadi di desa molinese Kec. Lainea. KS (45) yang tega menyetubuhi anaknya berinisial MR (15) berulang kali hingga hamil.

Kasus yang sama juga  terjadi di desa Wonua Sangia Kec. Landono Pelakunya DM (41) cabuli dua anak kandungnya berinisial T (9) dan RA (12).

Tugas pokok Saktipeksos PA ini  adalah fokus Pendampingan Psikososial anak korban pelecehan seksual hingga benar-benar pulih.

Selain itu, Satuan ini juga rutin melakukan sosialisasi dan bimbingan dimasyarakat hingga kesekolah – sekolah dengan Istilah TEPAK Goes To Scool, yakni Temu penguatan anak dan keluarga terkait pentingnya orang tua mengawasi pergaulan anak termasuk dengan siapa anak itu berinteraksi.

Selain Tepak Goes to Scool, Satuan ini juga tak henti melakukan sosialisasi UU Tentang Perlindungan anak bersama sama dengan Unit Pelayanan Perempuan Dan Anak (PPA) dari Kepolisian sebagai mitra kerja.

Menurut Alumni IAIN Kendari ini, untuk menekan angka kekerasan seksual terhadap anak, selain melakukan Sosialisasi dan pembinaan dimasyarakat, yang terpenting adalah penegakan Hukum. Sebab pengalamannya selama melakukan tugas pendampingan, dimasyarakat kerap terjadi deal-deal kekeluargaan antara pelaku dan pihak korban. Sehingga tidak ada efek jera dan tidak menutup kemungkinan kejadian serupa akan terulang oleh pelaku.

“Jadi memang tidak cukup hanya dengan sosialisasi dan pembinaan. Yang terpenting adalah kesadaran hukum dan penegakan hukum terhadap pelaku, supaya ada efek jera. “Jelasnya.

Melalui moment Bulan Suci Ramdhan, Helpin tak lupa menghimbau segenap masyarakat konsel terutama para orang tua dan anak anak muda, untuk memanfaatkan bulan ini untuk memperkuat iman melalui ibadah.

“Saya kira dengan perbanyak ibadah Insa Allah kita akan jauh dari berbuat keji. “Tutupnya.

Pewarta : (HS002) / Mayon Husin

BACA JUGA BERITA MENARIK LAINNYA