Konsel, Harapansultra.com – Direktur Eks. Pusat Kajian dan Advokasi Tambang (PUKAT) Sulawesi Tenggara menemui Warga Desa Tunduno dan Laikandonga Kecamatan Ranomeeto Barat Kabupaten Konawe Selatan yang mimelih mengungsi akibat ditimpa bencara Banjir, Jumat (14/6/2019).

Berdasarkan hasil liputan Langsung dilokasi Bencana, Data korban yang berhasil dihimpun jurnalis Harapansultra.com ditemukan sekitar 220 Kepala Keluarag terkenda Dampak meluapnya Sungai Konaweha dan Sungai Boro-Boro sejak dua hari Pasca Lebaran lalu.

Dikatakan Mantan Ketua BPD desa Laikandonga, Yusuf menuturkan bahwa Bencana Banjir yang menimpa Pemukiman Warga setempat merupakan yang terparah selama hidupnya.

“Ini adalah Banjir yang terparah sepanjang saya hidup disini, Karena Ketiga dusun terendam”, Tuturnya.

Kata Yusuf, di Dusun III terdapat Tujuh Rumah Warga terendam Banjir, Sementara di Dusun II terdapat 6 rumah dan yang paling parah adalah Di Dusun I karena Selain Banjir dan Terisolir hingga Ratusan Meter dari Kediaman Kepala Desa, Puluhan Rumah di daerah tersebut juga tidak mendapatkan sumber listrik akibat Tiang listrik tumbang saat dihantam Arus Air.

Menyaksikan Kondisi Alam tersebut, Direktur PUKAT Sultra, Muh. AMSAR Meminta Pemerintah Daerah baik Tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Pusat untuk Tidak Tutup mata serta tidak jadikan untuk mempertebal Kantong saku.

“Sudah setiap musim penghujan tiba, Masyarakat Sulawesi Tenggara Harus dilarikan dibawah Tenda-tenda pengungsian, Semestinya Pemerintah Daerah, Bupati, Gubernur dan Presiden memikirkan Semua ini, Jangan Tutup Mata juga Jangan jadikan Keadaan seperti ini untuk Perkaya diri seperti yang terjadi di Daerah lain yang pernah ditimpa musibah”, Kicau Amsar.

Menurutnya, Kader Almarhum Munir (Contras) itu juga mengingatkan bahwa berdasarkan Hasil Kajiannya, 17 Kabupaten Kota Sesulawesi Tenggara sudah Berstatus Darurat Musibah Alam seperti Banjir, Tanah Longsor, Tsunami, Busung lapar serta penyakit lainnya yang disebabkan Oleh Aktifitas Pertambangan yang dibuka bebas oleh Pemerintah.

“Bencana yang menimpa Daerah kita ini adalah Dampak Aktifitas pertambangan baik yang Ilegal maupun Legal, jadi 17 Kabupaten Kota di Sultra ini Sudah Berstatus Darurat Bencana”, Ungkapnya.

Pewarta : Hir